Makalah Studi Kasus Bolos Sekolah
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Saat
ini masyarakat di dunia sedang menghadapi globalisasi, tidak terkecuali dengan
masyarakat Inonesia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat
berpengaruh terhadap globalisi.yang membat seakan-akan tidak ada batas yang
jelas antara 1 negara dengan Negara lainnya.
Globalisasi
saat ini pun juga dapat mempengaruhi terhadap bidang pendidikan di Indonesia.
Pasalnya sekolah-sekolah yang ada di Indonesia sudah bantak yang mendaftarkan
diri untuk menjadi Sekolah Berstandart Internasional yang memiliki fasilitas
teknologi yang modern dan juga menggunakan bahasa internasional yaitu bahasa
Inggris.
Dengan
adanya globalisasi sekarang ini, maka Negara-negara di dunia baik itu Negara
maju ataupun berkembang berlomba-lomba untuk meningkatkan prestasi pendidikan
di Negara mereka untuk mencetak generasi yang penerus bangsa yang lebih baik.
Begitu pula di Indonesia. Jika kita perhatikan, pemerintah Indonesia selalu
berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi tingkat kebodohan di Indonesia.
Sebagai
bukti nyata kita dapat melihat program-program pemerintah seperti BOS, Wajib
Belajar 9 Tahun, dan pemerintah bahkan menaikkan sebagian gaji para PNS
khususnya tenaga pendidik atau lazimnya disebut guru. Itu semua tidak lain
bertujuan untuk meningkatkan keefektifan cara mengajar guru kepada para penerus
bangsa yaitu siswa.
Tapi
pada kenyatannya hal ini bertolak belakang dengan kenyataan para siswa di
lapangan, seakan-akan program yang diberikan pemerintah sia-sia untuk dilaksanakan.
Pasalnya mereka lebih memilih bolos ketimbang belajar.
Pergi
ke sekolah bagi remaja merupakan suatu hak sekaligus kewajiban sebagai sarana
mengenyam pendidikan dalam rangka meningkatkan kehidupan yang lebih baik.
Sayang, kenyataannya banyak remaja yang enggan melakukannya tanpa alasan yang
dapat dipertanggungjawabkan. Banyak yang akhirnya membolos.
Perilaku
yang dikenal dengan istilah truancy ini dilakukan dengan cara,
siswa tetap pergi dari rumah pada pagi hari dengan berseragam, tetapi mereka
tidak berada di sekolah. Perilaku ini umumnya ditemukan pada remaja mulai
tingkat pendidikan SMP.
Memang
cerita bolos sewaktu pelajaran sudah tidak asing lagi bagi sebagian kalangan
murid ataupun masyarakat. Bolos atau meninggalkan jam pelajaran saat kegiatan
belajar mengajar sedang berlangsung di sekolah, itu merupakan hal yang sering
dilakukan oleh para pelajar. Namun tetap saja boleh dikatakan wajar sebab sikap
dasar manusia yang selalu saja ada secuil rasa bosan yang timbul di benak siswa
untuk menghadapi pelajaran. Terlebih bagi mereka yang sudah menjadikan bolos
ini sebagai hobi atau agenda wajib saat sekolah, mereka yang malas-malasan dan
hanya ingin bersenang-senang saja. Mereka lebih memilih untuk meninggalkan
kelas daripada harus mendengarkan penjelasan guru yang tidak mereka mengerti.
Mungkin masalah yang seperti ini sering dianggap sepele oleh sebagian kalangan,
namun hal ini sangatlah disayangkan terutama bagi pemerintah yang sudah
berusaha keras untu memajukan pendidikan di Indonesia.
Dan
untuk kepedulian penulis kepada merosotnya kedisiplinan dalam pendidikan, maka
penulis membuat karya tulis ini tentang para siswa yang membolos saat jam
pelajaran.
1.2 Merumuskan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah penulis sampaikan diatas, maka penulis dapat membuat
rumusan masalah sebagai berikut
1.2.1 Apa
penyebab siswa membolos pelajaran.
1.2.2 Apakah
ada pengaruh siswa yang membolos pelajaran dengan siswa yang lain.
1.2.3 Dimana
biasanya siswa membolos pelajaran.
1.2.4 Apa
dampak yang ditimbulkan dari siswa yang membolos pelajaran.
1.2.5 Bagaiman
cara mengatasi siswa yang membolos pelajaran.
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1
Untuk dapat mengetahui penyimpanan yang terjadi di masyarakat, terutama tentang
siswa yang membolos pelajaran.
1.3.2
Untuk menambah pengetahuan tentang penyimpangan siswa saat membolos pelajaran
bagi ilmu sosiologi.
1.3.3 Untuk
mengetahui penyebab siswa membolos pelajaran.
1.3.4
Untuk mengetahui adakah pengaruh siswa yang membolos pelajaran dengan siswa
lain
1.3.5
Untuk menjelaskan tempat-tempat yang biasanya digunakan siswa untuk membolos
pelajaran
1.3.6
Untuk menjelaskan dampak yang ditimbulkan terhadap siswa yang membolos
pelajaran
1.3.7
Untuk menjelaskan cara mengatasi siswa yang membolos pelajaran.
1.5. Manfaat Penelitian
Melalui
makalah penyimpangan siswa membolos pelajaran ini, diharapkan oleh penulis
dapat bermanfaat bagi banyak siswa, perkembangan ilmu pengetahuan dan
pihak-pihak lain.
a.
Siswa : - Sadar
diri untuk tidak membolos pelajaran lagi
- mengurangi penyimpangan-penyimpangan yang sering dilakukan siswa
- untuk dapat menjadi siswa teladan
- mengetahui dampak negative akibat membolos pelajaran
- Dapat membuat siswa jera
dan tidak akan mengulangi kebiasaannya membolos
b.
Guru : -
Dapat lebih mengawasi siswa yang membolos pelajaran
- dapat memperbaiki cara pengajaran supaya siswa tidak membolos
c.
Sekolah : - dapat menertibkan penyimpangan-penyimpangan
siswa.
- dapat meminimalkan siswa yang membolos
d.
Pengelola Dinas
Pendidikan : -
membuat peraturan tentang siswa yang melakukan
penyimpangan,
terutama siswa yang membolos pelajaran
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1. Konsep Penyimpangan
Siswa Membolos Pelajaran
Penyimpangan
: proses, cara, perbuatan menyimpang atau menyimpangkan (kamus besar bahasa
indonesia)
Membolos
: meloloskan diri, melarikan diri (kamus besar bahasa Indonesia)
2.2 Faktor yang mempengaruhi
perubahan sosial dalam membolos pelajaran
·
perkembangan teknologi
·
hubungan antar kelas-kelas dominant-kemampuan kelas dominant untuk menciptakan
ketertiban baru
·
meningkatnya kompleksitas masyarakat
(teori
sosiologi tentang perubahan sosial, 1983:20)
·
keinginan secara sadar dan keputusan para pribadi
·
pengaruh eksternal
(teori
sosiologi tentang perubahan sosial, 1983:26)
Sementara
itu, psikolog Dian Apriyatni Psi mengatakan, kebiasaan bolos sekolah itu
disebabkan oleh banyak faktor. Di mana tidak semuanya muthlak kenakalan siswa
Menurut Dian, ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa minggat dari sekolah,
di antaranya karena merasa bosan dengan gaya mengajar dari guru. Karena biasanya,
jika guru berhasil membangun suasana belajar yang menarik bagi siswanya, maka
senakal apa pun siswa tersebut, maka dia akan menunggui guru tersebut. Berbeda
dengan guru-guru yang sudah menakutkan bagi siswa mulai dari gaya mengajar,
cara menghadapi siswa hingga memberikan tugas. Tetapi ada juga yang memang yang
bolos karena gurunya gagal membuat suasana menarik di kelas, sehingga membuat
siswa bosan dan mencoba mencari suasana berbeda di luar sekolah. Penyebab lain
adalah adanya masalah pribadi baik dengan orang tua, pacar, keluarga maupun
dengan teman-teman. Biasanya, masalah ini membuatnya tidak konsentrasi. Namun,
bolos sekolah juga terkadang dilakukan siswa karena pengaruh dari teman-teman.
Karena masa remaja, pengaruh teman-teman yang disebut dengan konvernitas sangat
besar. Bahkan, nilai yang dibawa dari rumah bisa hilang karena konvernitas
tadi.
Sebenarnya,
hal ini wajar karena memang pada masa ini, teman merupakan salah satu penentu
karakter bagi remaja setelah orangtua. Secara psikologis, ini menyebabkan
pengaruh teman bisa lebih menentukan dibandingkan orang tua. Apalagi bila
perhatian dari orang tua minim. Maka remaja akan lari dengan teman-temanya
sebagai teman curhat.
Faktor
pendukung munculnya perilaku membolos sekolah pada remaja ini dapat dikelompokkan
menjadi 3, faktor sekolah, personal, serta keluarga. Faktor sekolah yang
berisiko meningkatkan munculnya perilaku membolos pada remaja antara lain
kebijakan mengenai pembolosan yang tidak konsisten, interaksi yang minim antara
orang tua siswa dengan pihak sekolah, guru-guru yang tidak suportif, atau
tugas-tugas sekolah yang kurang menantang bagi siswa.
Faktor
personal misalnya terkait dengan menurunnya motivasi atau hilangnya minat
akademik siswa, kondisi ketinggalan pelajaran, atau karena kenakalan remaja
seperti konsumsi alkohol dan minuman keras.
Sedangkan
faktor keluarga meliputi pola asuh orang tua atau kurangnya partisipasi orang
tua dalam pendidikan anak (Kearney, 2001). Ketiga faktor tersebut dapat muncul
secara terpisah atau berkaitan satu sama lain.
2.3 Upaya-Upaya untuk
Mengatasi Siswa Membolos Pelajaran.
A. Umum
Tiga
unsur kunci dalam belajar terpadu:
·
kegiatan proyek di luar kelas yang menarik, memadukan riset dan eksplorasi
·
penggunaan computer oleh siswa sebagai sarana pemproses informasi dan analisis
·
sejarah, goegrafi, ilmu alam, matematika, ekonomi, menulis, computer dan mata
pelajaran lain disatupadukan, tidak diajarkan secara terpisah.
(evolusi
belajar, 1998:176)
Adapun
guru yang mengalami masalah dengan murid yang membolos dan Ia pun mencoba untuk
mencoba memberitahu siswanya mengenai hal itu , namun cara itu tidak ampuh dan
Iapun mencoba menegur dengan keras dan cara yang dilakukannya berhasil sebanyak
50%, Tapi hasilnya kurang memuaskan. Iapun mencoba untuk mencoba hal yang tidak biasayaitu
dengan menyuruh siswa yang bolos untuk membuat surat pernyataan yang menyatakan
bahwa mereka tidak akan mengulangi perbuatan tersebut.Yang membuat Surat
pernyataan ini berbeda ada pada isinya yaitu dengan memasukkan tanda tangan
orang tua, ketua RT dan RW.
Pada
akhirnya cara ini dapat membuat hampir 100% siswa sudah tidak lagi membolos.
Hal
yang menyebabkan siswa tidak membolos adalah karena mereka mendapatkan hukuman
sosialyang berat dan dengan mencantumkan tanda tangan ketua RT dan RW memiliki
beban tersendiri.
B. Khusus
·
Guru dapat mengerti kondisi siswa
·
Memberi sanksi yang tegas kepada siswa yang membolos pelajaran
·
Absensi setiap jam pelajaran
·
Membentuk suatu pelajaran yang menyenangkan sehingga siswa tidak merasa bosan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab 3 ini penulis akan membahas (1) rancangan penelitian, (2) data
penelitian, (3) sumber data penelitian, (4) prosedur dan teknik penelitian, (5)
analisis data.
3.1 Rancangan Penelitian
Rancangan
penelitian yang penulis gunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah dengan
cara mengumpulkan data yang telah terkumpul dengan instrument kemudian data
yang telah terkumpul akan dianalisis secara kuantitatif.
Tujuan
utama penelitian ini adalah untuk membuktikan keefektifan teknik (self
monitoring) sebagai variabel bebas terhadap pengelolaan diri sebagai variabel
terkait yang dihubungkan dengan siswa yang membolos pelajaran. Data yang
terkumpul dengan instrument ini kemudian dianalisis secara kuantitatif menurut
Mardalis (1990;26)
3.2 Data Penelitian
Subyek
penelitian ini adalah siswa kelas XI MA Al-Ikhlas Pawenang sebanyak 15 siswa
untuk mewakili 30 siswa dengan perbandingan 1:10. kelompok siswa yang mengikuti
pelajaran di MA Al-Ikhlas Pawenang didasarkan pada pertimbangan banyak siswa
yang melakukan penyimpangan dengan membolos saat pelajaran di kelas sedang
berlangsung. Disamping itu siswa kelas XI memiliki kemantapan jiwa dalam
penggunaan langkah-langkah pembelajaran dan pada diri anak seusia itu sudah
memiliki keberanian dalam penggunaan langkah atau teknik dalam rangka
pembelajaran yang nyaman untuk dirinya.. hal ini sesuai dengan tahap perkembangan
jiwa anak periode berfikir operasional formal.
Menurut
Piaget (dalam dahar, 1988;186) mengemukakan bahwa anak pada usia tingkat
operasional formal sudah dapat berfikir sebagai orang dewasa, ia dapat
merumuskan sebagai alternative hipotesis dalam menanggapi masalah.
3.3 Sumber Data
Penelitian
Sumber
data penelitian adalah dari data yang diperoleh melalui instrument dan
pengamatan langsung dari penulis.
3.4 Prosedur Penelitian
Dan Teknik Pengumpulan Data
(4.1)
Prosedur Penelitian
4.1.1
Menyusun rancangan penelitian
4.1.2
Menyebarkan angket/ quosioner
4.1.3
Menentukan kelompok instrumen
4.2 Prosedur
Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data penulisan dilakukan dengan cara questioner alasan menggunakan
questioner adalah karena informasinya lebih banyak dan data lebih akurat.
Adapun langkah-langkah untuk questioner tersebut adalah:
1. menyebarkan
questioner kepada siswa kelas XI dan menyeleksi pemilih sebagai perwakilan
sampel
2.
menyeleksi data, penulis memeriksa data tang telah disebar apakah sudah sesuai
dengan data yang diperlukan, jika asih dirasa kurang penulis akan melakukan
wawancara langsung.
3.
mengkode data penulisan yang telah terkumpul
4.
mentabulasikan data penulisan sesuai prosedur
5.
menganalisis hasil dan penulisan.
3.5 Teknik Analisis Data
Teknik
analisis data yang digunakan oleh penulis adalah teknik analisis deskriptif
kuantitatif, yaitu mendeskripsikan tentang penyimpangan membolos pelajaran yang
dilakukan oleh siswa Kelas XI MA Al-Ikhlas Pawenang.
Adapun
analisis data dengan Metode prosentase. Prosentase merupakan hasil dari
frekuensi objek suatu kategori yang dibandingkan dengan jumlah frekuensi
seluruh kategori kemudian dilakukan 100 % atau dengan rumus:
P=
F/n x 100 %
BAB IV
ANALISIS DATA
4.1 Penyebab Siswa
Membolos Pelajaran
Membolos
saat pelajaran sebenarnya tidak dibenarkan dalam pendidikan. Dan sanksi-sanksi
juga sudah banyak diberikan kepada para siswa ynag membolos pelajaran. Pastinya
ada penyebab mengapa para pelajar tetap melakukan bolos pelajaran.
Dari
siswa sebanyak 15 orang, untuk penyebab siswa membolos pelajaran karena
pelajaran yang kurang disukai sebanyak 7 siswa dan penyebab siswa membolos
pelajaran karena guru yang tidak menyenangkan sebanyak 3 siswa. Faktor
lain yang menyebabkan siswa membolos pelajaran yaitu karena keinginan siswa
secara sadar, sebanyak 2 siswa. Dan siswa yang memilih faktor penyebab siswa
membolos pelajaran karena perkembangan teknologi, pengaruh eksternal, dan
munculnya tujuan bersama adalah sebanyak masing-masing 1 siswa.
Berikut
ini akan penulis jelaskan dari faktor-faktor di atas:
a.
Pelajaran Kurang Disukai.
Pelajaran
yang tidak menyenangkan, memjadi ilihan terbanyak para responden untuk keluar
kelas saat pelajaran berlangsung atau biasa disebut dengan bolos pelajaran.
Pelajaran yang kurang disukai dapat menjadi sikap malas dikelas, maka para
siswa jika berada di dalam kelas juga tidak dapat menangkap pelajaran dengan
baik, maka mereka akhirnya memilih untuk keluar kelas.
b. Guru
yang Tidak Menyenangkan.
Walaupun
sebenarnya mata pelajarnnya disukai oleh siswa, namun apabila gurunya tidak
menyenangkan, maka para siswa juga akan merasa bosan dengan cara pengajaran
atupun dengan sikap guru saat mengajar yang kurang bersahabat dengan para
muridnya. Dan sebagai tindakan para siswa, mereka lebih memilih untuk
meninggalkan ruangan kelas. Sebaliknya, kalau guru menyenangkan, walaupun
pelajaran yang diajarkan sulit, siswa tetap merasa enjoy di
dalam kelas, dan itu membuat lama-kelamaan para siswa dapat menerima pelajaran
dengan mudah karena
c. Pengaruh
eksternal
Dari
penyebaran questioner oleh penulis, 1 responden yang memilih jawaban karena
pengaruh eksternal. Itu disebabkan karena siswa hanya ikut-ikutan saja dengan
teman-temannya saat membolos pelajaran tersebut. Sehingga di dalam kelas dia
merasa bosan karena teman-teman dekatnya keluar kelas, dan dia juga ikut keluar
kelas bersama teman-temannya.
4.2 Ada atau Tidak
Pengaruh Siswa yang Membolos Pelajaran dengan Siswa yang Lain
Siswa
yang membolos sekolah biasanya dapat mengganggu siswa yang lain yang sedang
belajar di dalam kelas. Sebelumnya penulis telah menyebarkan questioner kepada
siswa XI, dan akan dilihat ada atau tidaknya pengaruh antara siswa yang
membolos dengan siswa yang lain, dan dampak yang dapat ditimbulkan dari siswa
membolos tersebut terhadap siswa yang lain.
Dari siswa sebanyak 15 orang, untuk ada atau tidaknya pengaruh siswa yang
membolos pelajaran dengan siswa yang lainnya sebanyak 12 siswa memilih jawaban
ya, ada pengaruh siswa yang membolos pelajaran dengan siswa yang lain dan 3
siswa memilih jawaban tidak ada pengaruh anatara siswa yang membolos pelajaran
denagn siswa yang lainnya.
Dari siswa sebanyak 15 orang, hanya 12 siswa yang memilih ada pengaruh antara
siswa yang membolos pelajaran dengan siswa yang lain, maka dalam analisis
diatas, hanya disajikan 12 frekuensi.
Dari
12 siswa, dampak yang dapat ditimbulkan oleh siswa yang membolos sekolah dengan
siswa yang lain yaitu paling banyak memilih tidak konsentrasi belajar yang
telah dipilih sebanyak 6 siswa. Lalu dilanjutkan dengan siswa yang memilih ikut
kena marah guru sebagai dampak yang dapat ditimbulkan dari siswa yang membolos
pelajaran dengan siswa yang lain sebanyak 4 siswa yang mempunyai. Dan yang
paling sedikit yaitu siswa yang memilih pelajaran jadi tertunda yaitu sebanyak
2 siswa
Dampak
tidak konsentrasi belajar ini karena sifat siswa yang setia kawan, dia
memikirkan bagaimana kondisi temannya jika dihukum nanti, maka dia tidak dapat
konsentrasi dalam pelajarannya.
Pada
saat guru mata pelajaran memberikan absensi, dan mengetahui kalau ada seorang
atau beberapa orang siswanya tidak ada, maka guru past akan marah-marah, dan
biasanya marahnya guru tersebut akan berdampak juga kepada siswa-siswa yang
lain,dan ini juga dapat membuat para siswa tidak dapat konsentrasi dalam
menerima pelajaran karena suasana kelas yang sudah tidak nyaman.
Selain
itu biasanya apabila mengetahui ada siswanya yang keluar kelas, apabila guru
itu disiplin, maka beliau akan menyuruh siswa lain atau biasanya ketua kelas
untuk mewncari temannya yang tidak ada tersebut untuk kembali masuk keluar
kelas, maka palajaran dapat tertunda pada saat yang lain mencari siswa yang
membolos tersebut.
4.3 Tempat yang Biasanya
Digunakan Siswa Saat Bolos Pelajaran.
Sekarang
ini membolos pelajaran seperti sudah menjadi kebiasaan yang sudah tidak
dianggap tabu lagi. Semua murid SMP dan SMA sudah banyak yang melakukan bolos
pada saat jam pelajaran berlangsung. Dan apabila ada siswa yang membolos, pasti
mereka mempunyai tempat favourite yang mereka gunakan saat membolos tersebut.
Tempat
yang paling sering digunakan atau terfavorit untuk membolos sekolah adalah
kantin sekolah. Menurut pendapat penulis, kantin memang tepat sebagai tempat
yang digunakan untuk membolos pelajaran, karena di kantin banyak fasilitas yang
nyaman untuk tempat bolos. Apabila siswa yang membolos itu haus atau lapar,
maka dapat langsung membelinya, selain itu kantin juga tempat yang enak saat
digunakan untuk mengobrol dengan teman, karena biasanya siswa membolos bersama
teman-temannya.
Dan
selain itu hutan sekolah juga menjadi tempat favotit bagi siswa yang membolos
pelajarn. Suasana di hutan yang nyaman dan teduh dingin, sejuk, sangat
menyenangkan saat memolos pelajaran di hutan sekolah.
4.4 Dampak yang
Dapat Ditimbulkan Dari Siswa membolos Pelajaran
Setiap
perbuatan pasti akan mempunyai dampak positif dan negative. Tetapi apabila
perbuatan itu menyimpang, maka dampat negative yang ditimbulkan akan lebih
banyak dari pada dampak negatifnya. Dan untuk itu, penulis akan menjelaskan
damapak yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan siswa membolos pelajaran sebagai
berikut:
Dari
hasil questioner yang telah disebarkan oleh penulis kepada para siswa XI sebanyak
15 siswa, maka dapat kita ketahui dari diagram di atas bahwa paling banyak
dampak yang dapat ditimbulkan dari siswa yang membolos pelajaran adalah
ketinggalan mata pelajaran yang dipilih sebanyak 8 siswa. Sekarang ini para
responden sudah kelas 3, apabila jam pelajar dibuang secara sia-sia bagaimana
persiapan ujian yang sebentar lagi akan dihadapi. Apakah semuanya sudah yakin
kalau dapat lulus dengan nilai yang baik.
Dampak
yang lain adalah nilai mata pelajaran yang semakin jatuh, yang telah dipilih
oleh sebanyak 3 responden. Bukan saja pelajaran yang akan diujikan di Ujian
Nasional yang harus dipelajari, namun juga mata pelajarn lain juga penting
karena mata pelajaran lain tetap diujikan dalan Ujian Sekolah. Kalau salah 1
nilai saja yang jatuh, maka di ijazah itu sudah tidak dapat dirubah lagi, dan
itu untuk seumur hidup.
Selain
itu ada juga dampak dari membolos pelajaran yaitu dimarahi guru yang dipilih
oleh 1 siswa. Namun itu juga dapat melihat gurunya. Jika gurunya keras atau
disiplin maka para siswa yang membolos akan kena marah dan dapat sanksi yang tegas.
Tetapi apabila gurunya biasa-biasa saja, para siswa yang membolos dibiarkan
saja diluar kelas tidak mengikuti pelajarannya dan tidak kena marah. Mungkin
bagi guru tersebut, siswalah yang membutuhkan pelajaran ini untuk menghadapi
Ujian, bukan guru yang membutuhkan siswa.
4.5 Upaya yang Dapat
Dilakukan Supaya Siswa Tidak Membolos Pelajaran
Semakin
lama, siswa yang akan melakukan bolos pelajarn agar semakin bertambah dengan
mengikuti perkembangan jaman. Kalau tidak diberantas lebih awal, maka lama-kelamaan
semakin banyak pula para penerus bangsa yang melakukan bolos pelajaran. Penerus
bangsa yang seharusnya dapat lebih dibanggakan, malah akan terjerumus ke dalam
hal-hal yang tidak berguna. Dan upaya-upaya pencegahan atau pemberantasan harus
segera dilakukan untuk mengurangi para siswa yang bolos pelajaran. Dari hasil
pengamatan penulis, maka bolos pada saat jam pelajaran dapat diatasi dengan
cara sebagai berikut yang digambarkan dalam diagram di bawah ini:
Dari
hasil questioner yang telah penulis kepada siswa XI sebanyak 15 siswa, maka
paling banyak mereka berpendapat tentang upaya yang dilakukan agar siswa tidak
bolos saat pelajaran yaitu guru dapat mengerti kondisi siswa dan siswa diberi
sanksi yang tegas jika membolos pelajarn, yang dipilih oleh masing-masing 5
siswa.
Guru
sebaiknya dapat mengerti bagaimana kondisi siswa saat itu. Jika kondisi siswa
yang dari awal memang kurang semangat, guru sobaiknya tidak memaksakan para
siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang sangat berat, yang malah akan membuat siswa
jenuh di dalam kelas dan akhirnya mereka akan memilih keluar kelas supaya tidak
jenuh.
Demikian
juga sanksi yang diberikan harus tegas kepada siswa yang ketauan membolos saat
kegiatan belajar mengajar di kelas berlangsung. Supaya siswa merasa takut dan
tidak mengulangi untuk meninggalkan kelas saat kegiatan belajar mengajar
berlangsung. Guru sebaiknya bersikap keras kepada para siswa yang meninggalkan
pelajarannya. Paling tidak didak boleh mengikuti kelas selama beberapa waktu
atu membuat surat pernyataan.
Selanjutnya
upaya yang dapat dilakukan unutk mengatasi siswa yang membolos adalah kegiatan
di luar kelas yang menarik dan absensi setiap jam mata pelajaran yang dipilih
oleh sebanyak 2 siswa.
Apabila
para siswa sudah merasa mulai jenuh dengan cara pengajaran di luar kelas, guru
dapat melakukan pengajaran di luar kelas seperti di perpustakaan atau studi
pengamatan kecil-kecilan dengan kegiatan di luar kelas, sehingga siswa juga
sekalian dapat melakukan refreshing, tidak harus belajar di kelas setiap
harinya. Kegiatan seperti itu mungkin dapat mengatasi para siswa yang merasa
jenuh dan dengan kegiatan di lauar kelas, mereka walaupun berada di luar tapi
tetap dapat mengikuti pelajaran.
Dan
absensi setiap jam mata pelajarn, supaya guru mengetahui siapa saja para siswa
yang sering meninggalkan kelas saat jam pelajarnnya, dapat dilaporkan kepada
wali kelasnya ataupun di beri sanksi sendiri oleh guru yang bersangkutan.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
4.1.1 Paling banyak siswa yang memilih
penyebab siswa yang membolos pelajaran adalah pelajarannya yang kurang di
sukai, guru yang kurang menyenangkan. Lalu pengaruh eksternal, keinginan secara
sadar, munculnya tujuan bersama dan perkembangan teknologi.
4.1.2 Ada pengaruh yang
ditimbulkan dari siswa yang membolos pelajarn dengan siswa yang lainnya. Dan
dampak yang ditimbulkan dari siswa tersebut adalah tidak konsentrasi belajar,
ikut kena marah guru, dan pelajarannya yang jadi tertunda
4.1.3 Tempat-tempat yang
biasanya digunakan oleh siswa untuk membolos yaitu kantin.
4.1.4 Dampak yang dapat ditimbulkan dari
siswa membolos pelajaran yaitu ketinggalan pelajaran, nilai yang semakin jatuh,
dimarahi guru, pergaulan yang semakin luas dan tidak ada dampak yang
ditimbulkan dari siswa yang membolos pelajaran.
4.1.5 Upaya-upaya yang dapat dilakukan
untuk mengatasi siswa yang membolos pelajaran yaitu guru yang seharusnya dapat
mengerti bagaimana kondisi siswa, siswa yang membolos diberi sanksi yang tegas,
kegiatan di luar kelas yang menarik.
4.2 Saran
4.2.1 Guru dapat mengerti kondisi siswa
dan melakukan kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan.
4.2.2 Sanksi dengan membuat
surat pernyataan untuk siswa yang membolos pelajaran kepada orang tua atau
perangkat desanya.
4.2.3 tidak dapat mengikuti
pelajarn tersebut dalam beberapa waktu
4.2.4 banyak melakukan
pengajaran di laur kelas atau pengamatan di luar kelas.
4.2.5 siswa menyadari
pentingnya mengikuti pelajaran di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Soekanto,
Soerjono.1883. Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial.
Jakarta:Ghalia Indonesia.
Dryden,Gordon
dan Dr.Jeannette Vos.2000.The Learning Revolution.Bandung:Kaifa
www.google.com (siswa membolos sekolah)

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home