Makalah Islam Secara Menyeluruh/Kaffah
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Agama Islam adalah agama bagi kehidupan umat manusia.
Tidak ada pihak
manapun yang mengetahui masalah kebutuhan dasar manusia yang akan membawa
keselamatan diri, keluarga, dan masyarakat banyak, kecuali Allah SWT sebagai
Khaliknya. Melalui ketentuan syari’at agama Islam, yang berisi berbagai
perintah, larangan dan petunjuk-petunjuk-Nya,
dimaksudkan hanyalah untuk kemaslahatan hidup
manusia di dunia dan di akhiratnya.
Terdapat
lima bidang besar kandungan ajaran Islam itu, meliputi : 1) Akidah; 2) Syari’at
/ Ibadah khash; 3) Mu’amalah dunyawiyah; 4) Akhlak; dan 5) Ilmu
pengetahuan dan Manajemen. Kelima
bidang tersebut dilihat dari aspek studi /
materi ajar tentang agama Islam, bukan
dari agama Islam sebagai tuntunan amaliah dan pembangunan rasa
keagamaan umat. Karena setiap seseorang bertindak berkegiatan,
maka ketika itu bangunan aqidahnya, ibadahnya,
akhlaknya perlu menyertainya secara bersamaan.
Demikian juga, \makna agama Islam sebagai agama
penyelamat kehidupan umat manusia, adalah dilihat dari himpunan kesatuan ajaran
di atas menjadi satu kesatuan ( kaffah )
dalam pribadi seorang muslim.
Hal itu, artinya bahwa agama
Islam berfungsi pada diri penganutnya itu
sebagai panduan dan tuntunan atau hudan li
al-nas (
petunjuk bagi kehidupan manusia ),
baik individu atau kolektifnya. Hal ini di
pertimbangkan, oleh karena kehidupan itu
sangat komplek, sedangkan
klasifikasi bidang ajaran di atas, hanya konsumsi bagi pengetahuan agama saja.
Karena itu,
orang yang dijanjikan masuk surga,
adalah mereka yang beriman disertai amal salih.
Keimanan disertai kesalihan beramal itu, bila
dilengkapi dengan ilmu pengetahuan, maka pemiliknya akan memperoleh
derajat lebih dari yang lainnya. Di sini
pentingnya iman,
ilmu dan amal menyatu pada diri seorang muslim.
B. Rumusan
Masalah
Dari latar belakang diatas dapat diambil beberapa rumusan
masalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian
muslim ?
2. Apa pengertian
kaffah?
3. Bagaimana
karakteristik muslim kaffah?
4. Apa bentuk
kepribadian muslim yang kaffah?
C. Tujuan
Masalah
Dari rumusan masalah diatas bisa diambil beberapa tujuan
masalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui
pengertian muslim
2. Untuk
mengetahui pengertian kaffah
3. Untuk
mengetahui karakteristik muslim kaffah
4. Untuk
mengetahui bentuk kepribadian muslim yang kaffah
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Muslim
Pengertian muslim dalam arti bahasa
adalah orang yang menyerah, yang patuh dan tunduk, yang menyerahkan.
Sedangkan menurut arti istilah adalah orang yang menyerah
dan tunduk patuh lahir dan bathin kepada Allah dan menyerahkan jiwa, semua
miliknya, hidupnya, matinya dan semua amalnya semata-mata kepada Allah.
Dalam surat Luqman dijelaskan yang artinya :
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah,
sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang
kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala
urusan.” (QS Luqman, 31: 22)
B. Pengertian
Kaffah
Dengan
penuh kasih sayang, Allah menyerukan kepada hamba-Nya yang beriman untuk
senantiasa memeluk dan mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh, bukan secara
setengah-setengah. Seperti yang difirmankan-Nya:
Artinya : “Hai orang-orang yang
beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara telah keseluruhannya”.
Pemahaman
secara kaffah dalam pemurnian ilmu sesuai keasliann yang disampaikan nabi saw
adalah juru selamat dunia akherat bagi umat manusia. Tidak ada penambahan dan
penafsiran sesuai kepentingan hajat hidupnya dengan mengemukakan pendapat sebagai
alibi pembenaran ajaran sesatnya.
Pengertian
kaffah dalam risalah ini adalah pengamalan atas ilmu seutuhnya
sesuai dengan yang tersurat dalam Al Qur’an dan hadits nabi saw yang
shoheh. Sebab nabi saw telah memperingatkan dalam sabdanya “ Wakulla
bid’atin dholalah.” artinya segala penambahan (diluar sunah nabi saw
adalah sesat.)” Sebagai contoh beberapa bentuk penyimpangan oleh sebab
kelalaian manusia, yang menyebabkan dirinya menjadi tidak kaffah, Allah swt
bersirman :
Artinya : Dan di antara manusia
ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan
dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah
penantang yang paling keras. (QS Al Baqoroh 204)[2]
Di
awal-awal surat al Baqarah, Allah menceritakan tentang karakteristik
manusia yang digolongkan ke dalam tiga kelompok: Mukmin, kafir dan munafik.
Maka pada ayat yang mulia ini, Allah menyerukan kepada mereka yang beriman itu
untuk beristiqamah dengan ajaran Islam yang sesungguhnya, Islam yang bersih
dari segala bentuk kekufuran dan kemunafikan. Karena segala bentuk kekufuran
dan kemunafikan itu adalah bagian dari amal dan perbuatan syetan yang berusaha
secara terus menerus untuk menggelincirkan manusia ke dalam jurang kehancuran.
Ada beberapa Imam yang memaknai kaffah diantaranya yaitu
:
Imam ath Thabari menerangkan makna ‘kaffah’ di dalam
tafsirnya adalah :“Perintah melaksanakan seluruh syari’at-syari’at-Nya (Islam)
dan hukum-hukum hudud-Nya dengan tidak mengurangi sebagiannya dan mengamalkan
sebagiannya. Yang demikian itu dimaksudkan karena ‘kaffah’ itu merupakan sifat
dari pada Islam, maka ini dapat ditakwilkan “Masuklah kamu dengan menagamalkan
seluruh ajaran-ajaran Islam, dan janganlah kamu mengurangi sedikitpun dari
padanya wahai ahli Iman dengan Muhammad dan dengan apa yang ia datang
dengannya.” Tafsir ath Thabari, Jaami’ al Bayaan fie
Ta’wiil al Qur’an, 2/337.
Al
Ustadz Sayyid Quthb rahimahullah beliau mengatakan: “Tatkala Allah menyeru
orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam Islam secara kaffah (total). Dia
juga mengingatkan mereka dari mengikuti langkah-langkah syetan. Karena
di sana tidak ada kecuali dua arah. Masuk ke dalam Islam secara kaffah atau
mengikuti langkah-langkah syetan,Petunjuk
atau kesesatan, Islam
atau jahiliyah, Jalan
Allah atau jalan syetan,Petunjuk
Allah atau kesesatan syetan.
Dengan ketegasan seperti ini seharusnya seorang muslim mampu mengetahui akan
keberadaannya, sehingga tidak terombang-ambing, tidak ragu-ragu dan tidak
bingung di antara berbagai jalan dan arah.
Imam
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menafsirkan makna ayat yang
artinya “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam
keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya
syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” Ialah : “Masuklah ke
dalam ketaatan seluruhnya.” Ia menyitir pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Abul
‘Aliyah, Ikrimah, Rabi’ bin Anas, As-Suddiy, Muqatil bin Hayyan, Qatadah,
Adh-Dhahhak, berkata mereka bahwa makna ( كافة )
dalam ayat tersebut: “Beramallah dengan semua amal & seluruh bentuk
kebajikan.
C. Pengertian
dan Pemahaman Islam Kaffah.
Islam kaffah maknanya adalah : Islam secara menyeluruh, yang Allah
‘Azza wa Jalla perintahkan dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 208. Perintah
kepada kaum mu`minin seluruhnya.
Memeluk dan mengamalkan Islam secara kaffah
adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus dilaksanakan oleh setiap
mukmin, siapapun dia, di manapun dia, apapun profesinya, di mana pun dia
tinggal, di zaman kapan pun dia hidup, baik dalam sekup besar ataupun kecil,
baik pribadi atau pun masyarakat, semua masuk dalam perintah ini : “Wahai
orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah
(menyeluruh).
Dua ayat dalam surah Al-Baqarah, yang pertama pada ayat ke 208,
dan kedua pada ayat ke-185 merupakan dasar pembahasan kita pada topik ini.
Islam kaffah maknanya adalah Islam secara
menyeluruh, dengan seluruh aspeknya, seluruh sisinya, yang terkait urusan iman,
atau terkait dangan dengan akhlak, atau terkait dengan ibadah, atau terkait
dangan mu’amalah, atau terkait dangan urusan pribadi, rumah tangga, masyarakat,
negara, dan yang lainnya yang sudah diatur dalam Islam. Ini makna Islam yang kaffah.Namun, sebelum membahas tentang Islam
yang kaffah : apa maknanya dan bagaimana bentuk riil dari Islam yang kaffah
ini? Sebelum kita mengetahui, seperti apa islam yang kaffah tersebut, apakah
sudah pernah ada penerapan Islam secara kaffah? Apakah pernah agama Islam ini,
sejak awal diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hari ini, pernahkah
diterapkan secara kaffah ataukah belumJawabannya adalah pasti : bahwa Islam
sudah pernah diterapkan secara kaffah. Islam secara kaffah sudah pernah
dipahami dan diamalkan oleh generasi terbaik umat ini, yaitu generasi para
shahabat Nabi ridwanallahi ‘alahi jami’an baik secara zhahir maupun secara
bathin.
Secara zhahir : tampak dalam berbagai amalan mereka, baik dalam
urusan ibadah, akhlak, maupun muamalah.
Secara bathin : yakni dalam keikhlasan, kebenaran dan kejujuran
iman, dan takwa.
Semua itu telah diterapkan para shahabat
Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam di bawah bimbingan langsung Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berkesinambungan dari hari ke hari, dari
tahun ke tahun. Ayat demi ayat turun, surat
demi surat turun untuk mereka dengan disampaikan dan diajarkan langsung oleh
Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam kepada mereka.
Ketika turun ayat tentang ibadah, maka
Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam langsung mempraktekkan ayat tersebut,
yakni mempraktekkan bagaimana cara beribadah yang dimaukan dalam ayat tersebut.
Ketika turun ayat tentang iman, maka Rasulullah Shallahu ‘alaihi
wa Sallam pun merinci makna yang terkait dengan iman tersebut.
Kehidupan beragama, atau agama bagi kehidupan, atau hudan
li al-nas ( petunjuk bagi umat manusia / Q.S. Al-Baqarah: 185)
terbangun dari satu kesatuan ajaran / kaffah (menyeluruh),
Q.S. al-Baqarah : 208. Karena itu, penyampaian ajaran
agama oleh Nabi SAW meliputi dua bentuk:
Pertama, bentuk ta’lim ( pengajaran );
dalam Alqur’an banyak diungkap penyampaian ajaran agama melalui ta’lim ini,
seperti diungkap dalam Q.S. Al-Baqarah: 129, dengan tiga tahapan: تلاوة(bacaan
produktif dan responsive),تعليم (proses
pendewasaan dan pengembangan sikap/ pengajaran ), تزكية (bersih diri
dari berbuat kurang baik);Q.S. Jum’ah: 2; dan Q.S. Ali ‘Imran: 164; dan ayat
lainnya.
Kedua, bentuk uswah hasanah ( contoh
yang baik ), sebagaimana diungkap Q.S. al-Ahzab : 21 yang artinya : Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.
Ta’lim(pengajaran) sangat diperlukan, guna antisipasi kemajuan
dan perkembangan kehidupan umat dan pertanggungjawababan keilmuan, sekalipun
karakter ilmu bersifat bayan ( penjelasan ) dan pemikiran;
juga ciri ilmu itu detail dan parsial. Posisi ilmu dalam agama
Islam sangat kokoh, menuntut dikuasai oleh setiap umatnya, sekalipun dalam
batas tertentu, karena kemampuannya. Tidak dibenarkan satu keyakinan dan amal
dalam Islam tanpa didukung oleh argument keilmuan ( Q.S. al-Isra : 36 ).
Sedangkan uswah hasanah, memiliki karakter konprehenshif,
menyeluruh (kaffah ); sekalipun empiris, tetapi mengandung muatan
spirit yang besar yang bisa mempengaruhi orang lain.
Q.S.al-Ahzab: 21, di atas mengisyaratkan hal tersebut
dengan tegas, bahwa uswah hasanah itu berhubungan erat dengan
harapan pertemuan dengan Allah SWT, hari akhirat dan banyak ingat kepada Allah
SWT (dzikr Allah katsiran). Sekalipun
terbatas, uswah hasanah bisa ada dan dimiliki seseorang selain
Rasul SAW, sekalipun orang tersebut tidak beragama, bila ketiga potensi dasar
dirinya berfungsi secara baik sebagai manusia. Tiga potensi dasar diri itu,
meliputi: 5 fungsi indra; 2 fungsi hati ( merasa baik dan buruk, benar dan
salah, bahagia dan sedih); dan 1 fungsi nurani (jastifikasi terhadap kebenaran,
kebaikan dan kebahagiaan hakiki dan universal). Ketiganya, dipastikan
hidup bersamaan dan saling berhubungan dalam setiap apa yang dikatakan
dan dilakukan seseorang tersebut.
D. Karakteristik
Muslim Kaffah
Karakteristik
alami muslim kaffah adalah
penting bagi kesejahteraan manusia, dengan catatan hal tersebut tidak
berlebih-lebihan dan dapat dikontrol. Kecenderungan untuk membuktikan dirinya
memotivasinya untuk mencari sisi yang terbaik dari dirinya, kepuasan yang dia
dapat dari kesadaran akan kualitas yang baik ia miliki akan memotivasi dirinya
untuk berusaha lebih keras untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Tetapi
apabila hasrat untuk membuktikan diri ini belebihan dan lepas kontrol, maka
hasrat ini akan menjadi menjijikkan, penyakit berbahaya yang menjadikan
seseorang sombong dan takabur, dia akan meremehkan teman sejawatnya, walaupun
kualitas yang ia miliki jauh di bawah apa yang ia ceritakan pada orang lain.
Sangat
jelas bahwa manusia itu cenderung lalai dan tidak peduli dari pada mencari apa
yang benar, karena lebih gampang terjatuh dari pada bangkit, dan lebih gampang
lalai dari pada mengikuti aturan. Sehingga manusia
memerlukan sebuah pengingat untuk mengingatkan dia setiap dia lupa dan setiap
langkahnya tergelincir dari jalan yang lurus.
Allah
SWT tidaklah menurunkan agama Islam dari langit ke tujuh sebagai teori untuk
didiskusikan atau kalimat-kalimat suci yang dihafal dan diucapkan untuk mencari
keberkatan tanpa mengetahui artinya. Allah SWT menurunkan
agama ini untuk mengatur hidup individu, keluarga, dan masyarakat luas. Sebagai
rambu-rambu yang akan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya:
“Hai
Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu
banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya.
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang
menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti
keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah
mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang
benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus” (QS. Al Maidah 5: 15-16.
Allah mengingatkan kita orang-orang yang
beriman agar masuk kedalam Islam secara sempurna. Sempurna dalam arti kata
tidak terikuti langkah-langkah syaitan.
Ada beberapa ciri-ciri orang yang masuk
kedalam islamsecara menyeluruh dan sempurna:
1. Mengerjakan atau
meninggalkan sesuatu karena Allah Swt.
Tidak mau berbohong bukan karena takut pada
manusia tapi takut pada Allah. Mengerjakan shalat, puasa dan berhaji bahkan berbuat baik demi mendapat
keridhoan Allah. Apa yang tiak Allah sukai
ditinggalkannya karena takut murka Allah.
2. Tidak
mengharap imbalan dan sanjungan dari manusia.
Bagi manusia, jika kita menguntungkan dia
maka dia akan baik pada kita. Tapi jika kita tidak memberi keuntungan lagi
padanya maka dia akan menjadi musuh kita. Kata Imam Ghazali, Orang-orang yang
bersahabat karib tatkala memiliki kepentingan yang berbeda akan menjadi musuh. Bahkan anak bisa menjadi musuh orang tuanya.
3. Sangat
mengharap balasan dari Allah Swt.
Apapun yang dilakukannya dia selalu
bergantung dan meminta pertolongan pada Allah. Sekecil apapun yang
dikerjakannya dia meminta kekuatan pada Allah. Pada waktu makan dia betul-betul
meminta agar apa yang dimakannya akan membuat dia sehat. Ketika
berkendaraan membaca bismillah mengharap keselamatan dari Allah. Belajar dan
berusahapun juga mengharap ridho Allah agar diberi kemudahan
dalammenghadapinya.
4. Sangat takut akan dosa dan azab Allah
Swt.
Orang yang mau menahan nafsunya agar tidak
tergelincir kedalam dosa. Dia tidak ingin memakan sesuatu yang berasal dari
sumber yang haram. Daging yang tumbuh dari yang haram, nerakalah tempatnya.
Ingatlah jika dewasa nanti pastikanlah kita bekerja ditempat yang jelas sumber
uangnya itu halal.
5. Sangat harap pada buah kebaikan.
Seperti kisah Ashabul Kahfi yang selamat terkurung dari dalam goa
karena kebaikan yang pernah dilakukannya. Oleh karena itu perbanyaklah amal
kebaikan dan niatkan segala sesuatu itu karena Allah. Semua itu insya Allah
tidak sia-sia disisi Allah.[8]
E. Bentuk Kepribadian Muslim Kaffah
Pengertian
kepribadian muslim adalah kepribadian yang menunjukkan tingkah laku luar,
kegiatan-kegiatan jiwa, dan filsafat hidup serta kepercayaan seorang Islam.
Lebih lengkapnya definisi kepribadian muslim itu sendiri ialah kepribadian yang
seluruh aspek-aspeknya baik tingkah laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwanya,
maupun filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan
penyerahan dirinya kepada-Nya.
Pembentukan kepribadian itu berlangsung secara berangsur-angsur, bukanlah hal yang sekali jadi, melainkan sesuatu yang berkembang. Oleh karena itu, pembentukan kepribadian merupakan suatu proses. Akhir dari perkembangan itu kalau berlangsung dengan baik akan menghasilkan suatu kepribadian yang harmonis. Kepribadian itu disebut harmonis kalau segala aspek-aspeknya seimbang, kalau tenaga-tenaga kerja seimbang pula sesuai dengan kebutuhan.
Pembentukan kepribadian itu berlangsung secara berangsur-angsur, bukanlah hal yang sekali jadi, melainkan sesuatu yang berkembang. Oleh karena itu, pembentukan kepribadian merupakan suatu proses. Akhir dari perkembangan itu kalau berlangsung dengan baik akan menghasilkan suatu kepribadian yang harmonis. Kepribadian itu disebut harmonis kalau segala aspek-aspeknya seimbang, kalau tenaga-tenaga kerja seimbang pula sesuai dengan kebutuhan.
Teori
kepribadian muslim dari para cendekiawan muslim harus dapat mengungkapkan apa
pengertian ”kepribadian muslim” dan tidak perlu menjiplak sarjana psikologi
barat karena mereka berteori yang kreatif tetapi ”ngawur”.Untuk mengantisipasi
teori psikologi barat tersebut, Dr. Fadhil al-Jamaly menggambarkan kepribadian
muslim yang kaffah, yaitu sebagai muslim yang berbudaya dan tanpa akhir
ketinggiannya. Dia hidup dalam lingkungan yang luas
tanpa batas ke dalamnya, dan tanpa akhir ketinggiannya. Dia mampu menangkap
makna ayat yang menyatakan ”Aku akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda
kebesaran-Ku di ufuk langit dan didalam dirinya sendiri, sehingga jelaslah bagi
mereka bahwa Allah Swt itu benar (Muslim Sajadah :41). Kepribadian muslim
seperti digambarkan di atas mempunyai hubungan erat dalam suatu lingkaran
hubungan yang meliputi : Allah
Swt Alam, dan Manusia Dengan membentuk kepribadian muslim yang kaffah, manusia
banyak menggambarkan dirinya dengan bimbingan petunjuk Ilahi dalam rangka
mengemban tugasnya sebagai khalifah Allah Swt di muka bumi, dan selalu
melaksanakan kewajiban sebagai hamba Allah melakukan pengabdian kepada-Nya.
Kepribadian
yang seperti itu tidak ditemui dalam teori barat. Karena psikologi barat banyak
dipengaruhi oleh filsafat materialistis yang menjadi tujuan hidup. Kalaupun ada
mereka menyebut Tuhan, agama, dan keyakinan akan tetapi semuanya itu terpisah
dari pergaulan dan tata laksana kegiatan duniawi.
Berangkat
dari kepribadian muslim yang kaffah, maka kepribadian tersebut terbagi dua
macam, yaitu :
1. Kepribadian kemanusiaan (basyariyah).
Kepribadian kemanusiaan dibagi dua bagian, yakni :
a. Kepribadian
individu, yaitu meliputi ciri khas seseorang dalam bentuk sikap dan tingkah
laku.
b. Kepribadian
ummah, yang meliputi ciri khas kepribadian muslim sebagai suatu ummah (bangsa /
negara) muslim yang meliputi sikap dan tingkah laku ummah muslim yang berbeda
dengan ummah lainnya.
2. Kepribadian
Samawi Yaitu corak kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam kitab
suci al-Qur’an, yang antara lain difirmankan oleh Allah Swt sebagai berikut
yang artinya :
”Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku
yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang
lain) karena jalan-jalan itu menceraikan kamu dari jalannya; yang demikian itu
diperintahkan Allah Swt supaya kamu bertaqwa.”
BAB
III
KESIMPULAN
Islam kaffah maknanya adalah : Islam secara menyeluruh, yang Allah
‘Azza wa Jalla perintahkan dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 208. Perintah
kepada kaum mu`minin seluruhnya.
Dari
penjelasan yang sudah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa
membentuk muslim yang kaffah dapat dikatakan mudah dan dapat pula
dikatakan sulit. Mudah disaat muslim tersebut : Mau atau tetap menjalankan
perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya,Mempunyai kepribadian, watak, sikap yang
baik terhadap sesamanya. Memiliki
sifat sosialisasi yang tinggi kepada sesamanya Memiliki akhlaq yang baik
Menjaga keharmonisan, karena secara tidak langsung keharmonisan memberikan
peranan yang banyak di dalam pembentukan muslim yang kaffah. Pembentukan muslim
yang kaffah menjadi sulit disaat semua muslimnya melenceng dari hal yang
disebutkan diatas.
Kepribadian muslim yang kaffah terbagi dua macam, yaitu :
1. Kepribadian
kemanusiaan (basyariyah). Kepribadian kemanusiaan dibagi dua bagian, yakni:
a. Kepribadian
individu
b. Kepribadian ummah
2. Kepribadian
Samawi Yaitu corak kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam kitab
suci al-Qur’an
Ada
beberapa ciri-ciri orang yang masuk kedalam islam secara menyeluruh dan
sempurna:
1. Mengerjakan atau meninggalkan sesuatu karena Allah Swt.
2. Tidak mengharap imbalan dan sanjungan dari
manusia.
3. Sangat mengharap balasan dari Allah Swt.
4. Sangat takut akan dosa dan azab Allah Swt.
5. Sangat harap pada buah kebaikan.
DAFTAR PUSTAKA
http://amhounkalwaysselalu.blogspot.co.id/2011/12/ muslim-kaffah.html
http://arfirotun.blogspot.co.id/2015_02_01_archive.html

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home