Makalah drama, daftar pustaka, dan catatan kaki
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Dalam belajar bahasa
Indonesia banyak sekali materi yang dipelajari baik berupa sastra maupun non
sastra. Dalam penjelasan yang akan dijelaskan berikut ini adalah berupa bagian
dari sastra yaitu drama, dan non sastra yaitu mengenai daftar pustaka dan
catatan kaki..
Drama dapat kita saksikan
baik secara langsung maupun lewat televisi. Namun akan lebih seru bila kita
menyaksikan drama secara langsung karena secara langsung lebih bisa menikmati
dan merasakan suasananya. Penulisan daftar pustaka dan catatan kaki terdapat
pada karya ilmiah, diantaranya makalah, skripsi, tesis, dll.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimanakah penjelasan mengenai drama?
2.
Bagaimanakah penjelasan mengenai daftar pustaka?
3.
Bagaimanakah penjelasan mengenai catatan kaki?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
DRAMA
1. Pengertian Drama
Istilah
drama berasal dari bahasa yunani droomai yang berarti berbuat. Pengertian drama
adalah pertunjukan cerita atau lakon kehidupan manusia yang dipentaskan. Drama
ialah aksi mimetic (peniruan), yaitu aksi yang meniru atau mewakilkan perlakuan
manusia. Menurut Aristotle, drama ialah peniruan kehidupan, sebuah cermin
budaya dan suatu bayangan kebenaran. Dalam buku The American College
Dictionary, drama didefinisikan sebagai karangan prosa dan puisi yang
menyajikan dialog, pantomin atau cereka yang mengandungi konflik untuk
dipentaskan. Mengikut Oxford Dictionary, drama sebagai komposisi prosa boleh
disesuaikan untuk disaksikan di atas pentas yang ceritanya disampaikan melalui
dialog dan aksi, dan dipersembahkan dengan bantuan gerak, kostum dan latar
hiasan seperti kehidupan yang sebenar. Bagi Aristotle, plot merupakan penggerak
utama sesebuah drama dan drama harus dibina dari tiga kesatuan, yaitu aksi,
tempat dan masa. Elemen-elemen inilah yang menyebabkan drama menjadi sebagian
dari cabang sastra. Selain elemen sastra, drama juga merangkumi elemen-elemen
seni yang lain seperti lakon, seni musik, seni busana dan seni
tari.
2. Ciri-ciri Drama
Pada
umumnya, drama mempunyai ciri-ciri yang berikut :
- Drama
merupakan prosa modern yang dihasilkan sebagai naskah untuk dibaca dan
dipentaskan.
- Naskah
drama boleh berbentuk prosa atau puisi.
- Drama
terdiri dari dialog yang disusun oleh pengarang dengan watak yang diwujudkan.
- Pemikiran
dan gagasan pengarang disampaikan melalui dialog watak-wataknya.
- Konflik
ialah unsur penting dalam drama. Konflik digerakkan oleh watak-watak dalam
plot, elemen penting dalam sesebuah skrip drama.
- Sebuah
skrip yang tidak didasari oleh konflik tidak dianggap sebuah drama yang baik.
- Gaya
bahasa dalam sebuah drama juga penting kerana ia menunjukkan latar masa dan
masyarakat yang diwakilinya, sekali gus drama ini mencerminkan sosiobudaya
masyarakat yang digambarkan oleh pengarang.
3. Unsur-unsur Drama
Unsur
dalam drama dapat diklasifikasikan menjadi dua unsur yaitu unsur intrinsik
(unsur dalam) dan unsur ektrinsik (unsur luar). Unsur intrinsik atau disebut
juga unsur dalam adalah unsur yang tidak tampak.
Unsur intrinsik (unsur
dalam) diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Tokoh
Tokoh adalah individu atau
seseorang yang menjadi pelaku cerita. Pelaku cerita atau pemain drama disebut
actor (pria) dan aktris (wanita). Tokoh dalam cerita fiksi atau drama berkaitan
dengan nama, usia, jenis kelamin, tipe fisik, jabatan, dan keadaan kejiwaan.
Tokoh dalam drama diklasifikasikan menjadi:
a. Berdasarkan
sifatnya, tokoh diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Tokoh protagonist yaitu tokoh utama yang mendukung
cerita.
2. Tokoh antagonis yaitu tokoh penentang cerita.
Biasanya ada seorang tokoh utama yang menetang cerita.
3. Tokoh tritagonis yaitu tokoh pembantu, baik untuk tokoh protagonist
maupun tokoh antagonis.
b. Berdasarkan
peranannya, tokoh diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Tokoh sentral yaitu tokoh yang paling menentukan
dalam drama. Tokoh sentral merupakan penyebab terjadinya konflik. Tokoh sentral
meliputi tokoh protagonis dan tokoh antagonis.
2. Tokoh utama yaitu tokoh pendukung atau penentang tokoh sentral. Dapat
juga sebagai perantara tokoh sentral atau dalam hal ini adalah tokoh
tritagonis.
3. Tokoh pembantu tokoh-tokoh yang memegang peran
pelengkap atau tambahan dalam mata rangkai cerita. Kehadiran tokoh pembantu ini
menurut kebutuhan cerita saja. Jadi tidak semua drama menampilkan kehadiran
tokoh pembantu.
Contoh:
Dalam
cerita Romeo dan Juliet tokoh protagonist yang sekaligus juga tokoh sentral
adalah Romeo dan Juliet. Tokoh utama sekaligus juga tokoh tritagonis adalah
pendeta Lorenso dan wakil keluarga Capulet. Tokoh-tokoh lain, seperti tentara
pangeran, inang, wakil-wakil Montage, dan wakil-wakil Capulet yang lain adalah
tokoh-tokoh pembantu.
2. Perwatakan
atau Penokohan
Perwatakan disebut juga
penokohan. Perwatakan atau Penokohan adalah penggambaran efek batin seseorang
tokoh yang disajikan dalam cerita. Watak pada tokoh digambarkan dalam tiga
dimensi (watak dimensional). Penggambaran itu berdasarkan keadaan fisik
biasanya dilukiskan paling awal, baru kemudian sosialnya. Pelukisan watak tokoh
dapat langsung pada dialog yang mewujudkan watak dan perkembangan lakon.
a. Keadaan
Fisik
Yang termasuk dalam keadaan
fisik tokoh adalah umur, jenis kelamin, cirri-ciri tubuh, cacat jasmani, cirri
khas yang menonjol,, suku, bangsa, raut muka, kesukaan, tinggi/pendek,
kurus/gemuk. Misalnya seseorang yang berleher pendek mempunyai watak mudah
tersinggung, seseorang yang berleher panjang mempunyai watak sabar.
b. Keadaan
Psikis
Keadaan psikis tokoh
meliputi: watak, kegemaran, mental, standar moral, temperanmen, ambisi,
psikologis yang dialami, dan keadaan emosi.
c. Keadaan
Sosiologis
Keadaan sosiologis tokoh
meliputi: jabatan, pekerjaan, kelas social, ras, agama, dan ideology. Contoh
penampilan pegawai bank akan berbeda dengan penampilan makelar, kendatipun
keadaan social ekonominya sama. Penampilan istri bupati, akan berbeda dengan
penampilan istri gubernur atau istri lurah. Perwatakan tokoh-tokoh dalam drama
digambarkan melalui dialog, ekspresi, atau tingkah laku sang tokoh.
3. Setting
Setting diciptakan
penulis/pengarang untuk memperjelas satuan peristiwa dalam cerita agar menjadi
logis atau konkretisasi sebuah tempat agar penonton, pembaca mempunyai
pembayangan yang tepat terhadap berlangsungnya suatu peristiwa. Selain itu,
setting juga diciptakan untuk menggerakan emosi atau kejiwaan pembaca atau
penonton. Secara emottif penonton atau pembaca diharapkan mempunyai daya khayal
yang lebih dalam sesuai dengan kedalaman-kedalaman pengalaman berfikirnya.
Misalnya pelaku yang berada diantara deretan pedagang-pedagang kaki lima, bukan
di sebuah plasa atau supermarket, pembaca atau penonton akan menagkap kesan
kesedihan, bahkan kemiskinan. Setting atau tempat kejadian cerita sering
disebut juga latar cerita. Setting meliputi tiga dimensi:
a. Setting
tempat
Setting tempat adalah tempat
terjadinya cerita dalam drama. Setting tempat tidak dapat berdiri sendiri.
Setting tempat berhubungan dengan setting ruang dan waktu.
b. Setting
waktu
Setting waktu adalah waktu
atau zaman atau periode sejarah terjadinya cerita dalam drama. Settingwaktu
juga terjadi di waktu pagi, siang, sore, atau malam.
c. Setting
ruang
Setting ruang juga dapat
berarti ruang dalam rumah atau latar rumah, hiasan, warna, dan peralatan dalam
ruang akan memberi corak tersendiri dalam drama yang dipentaskan. Misalnya di
ruang tamu keluarga modern yang kaya akan berbeda dengan ruang tamu keluarga
tradisional yang miskin.
4. Tema
Tema merupakan gagasan pokok
atau ide yang mendasari pembuatan sebuah drama. Tema dalam drama dikembangkan
melalui alur, tokoh-tokoh dan perwatakan yang memungkinkan adanya konflik, dan
ditulis dalam bentuk dialog. Tema yang bisa diangkat dalam drama adalah masalah
percintaan, kritik social, kemiskinan, kesenjangan social, penindasan,
ketuhanan, keluarga yang retak, patriotism, dan renungan hidup.
5. Setting
Alur atau plot adalah jalan
cerita. Dalam alur sebuah naskah drama bukan permasalahan maju-mundurnya sebuah
cerita seperti yang dimaksudkan dalam karangan prosa, tetapi alur yang
membimbing cerita dari awal hingga tuntas. Dimulai dengan pemaparan (perkenalan
awal tokoh dan penokohan), adanya masalah (konflik), konflikasi (masalah baru),
krisis (pertentangan mencapai titik puncak-klimak s.d. antiklimaks), resolusi
(pemecahan masalah), dan ditutup dengan ending (keputusan). Ada pula yang
menggambarkan alur dalam sebah naskah drama itu pemaparan-masalah-pemecahan
masalah atau resolusi-keputusan.
6. Amanat
dan Nama Pengarang
Seorang pengarang drama baik
sadar atau tidak sadar pasti menyampaikan amanat dalam karyanya. Amanat adalah
pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca atau penonton melalui karyanya.
Amanat yang hendak disampaikan pengarang melalui drama harus ditentukan atau
dicari sendiri oleh pembaca atau penonton. Setiap pembaca atau penonton dapat
berbeda-beda dalam menafsirkan amanat drama.
Amanat bersifat kias
subjektif & umum sedangkan tema bersifat lugas, objektif, & khusus.
Amanat biasanya memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Amanat drama
selalu berhubungan dengan tema drama.
Contoh:
Drama Romeo dan Juliet
bertema masalah percintaan yang berakhir dengan kematian, berdasarkan temanya
drama Romeo dan Juliet memiliki amanat:
a. Meskipun manusia
begitu cermat dan teliti merencanakan sesuatu, Tuhan jugalah yang menetukan apa
yang terjadi.
b. Manusia
tidak kuasa melawan garis nasib yang ditetapkan oleh Tuhan.
Amanat
drama yang dipaparkan diatas adalah versi penulis. Amanat drama Romeo dan
Juliet dapat ditafsirkan berbeda-beda oleh penonton atau pembacanya. Sedangkan
unsur ekstrinsik (unsur luar) dalam drama adalah unsur yang tampak, seperti
adanya dialog atau percakapan. Namun, unsur-unsur ini bisa bertambah ketika
naskah sudah dipentaskan. Seperti panggung, properti, tokoh, sutradara, dan
penonton.
4. Jeni-jenis Drama
Jenis-jenis
drama dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1. Berdasarkan
isi ceritanya.
a. Drama
tragedy (drama duka)
Tragedy
atau drama duka adalah drama yang melukiskan kisah sedih yang besar dan agung.
Tokoh-tokohnya terlibat dalam bencana atau masalah yang besar. Drama tragedy
menceritakan pertentangan antara tokoh protagonist dengan kekuatan dari luar
atau tokoh lainya. Pertentangan ini berakhir dengan keputusan, kehancuran, atau
kematian tokoh protagonis.
Contoh: Drama Romeo dan
Juliet, film Ttitanic.
b. Melodrama
Melodrama
adalah drama yang sangat menyentuh perasaan (sentimental), mendebarkan hati,
dan mengharukan. Ceritanya dilebih-lebihkan sehingga kurang meyakinkan penonton.
Tokoh-tokoh dalam melodrama adalah tokoh-tokoh yang hitam putih dan bersifat
tetap (stereotip). Seorang tokoh jahat adalah seluruh wataknya jahat, tidak ada
sisi baik sedikkitpun, sebaliknya, tokoh hero atau tokoh protagonist adalah
tokoh pujaan yang luput dari kekurangan, kesalahan, dan tindak kejahatan. Tokoh
hero ini pada akhirnya akan memenagkan peperangan, masalah, atau persaingan
yang ada. Tokoh-tokoh dalam melodrama dilukiskan pasrah atau menerima nasibnya
terhadap apa yang terjadi. Biasanya sinentron dan film Indonesia merupakan
melodrama.
Contoh: Film Ada Apa Dengan
Cinta, sinetron Cinta Fitri.
c. Komedi
(drama ria)
Komedi
adalah drama ringan yang sifatnya menghibur dan didalamnya terdapat dialog
kocak yang bersifat menyindir dan biasanya berakhir dengan kebahagiaan. Drama
komedi menampilkan tokoh tolol, konyol, atau tokoh bijaksana tapi lucu.
Penilaian penonton terhadap drama komedi dapat berbeda. Ada yang dapat tertawa
saat menonton drama komedi, ada juga yang tidak. Perbedaan penilaian ini
disebabkan oleh perbedaan budaya dan pengalaman. Penonton yang pernah mengalami
peristiwa yang diceritakan dalam drama komedi akan tertawa jika melihat drama
tersebut.
Contoh: Film Mister Bean,
sinetron Bajaj Bajuri
d. Dagelan
Dagelan
adalah drama kocak dan ringan. Isi cerita dagelan biasanya kasar, lentur, dan
vulgar. Dalam dagelan tidak terdapat kesetiaan terhadap alur cerita. Irama
permainan dapat melantur dan ketetapan waktu tidak dipatuhi. Tokoh-tokoh dalam
dagelan mempunyai watak yang berubah-ubah dari awal sampai akhir. Tokoh yang
serius dapat berubah secara tiba-tiba menjadi kocak. Dagelan disebut juga
banyolan, sering disebut tontonan konyol atau tontonan murahan.
Contoh: Teater Srimulat,
Ketoprak Humor, Opera Van Java, dan Opera Anak
2. Berdasarkan
cara penyajianya
1. Closed
Drama (drama untuk dibaca)
Closed
drama adalah drama yang dibuat hanya untuk dibaca dan hanya indah untuk dibaca.
Closed drama mempunyai dialog-dialog yang panjang dan menggunakan bahasa yang
indah. Dialog-dialog yang digunakan tidak mencerminkan percakapan sehari-hari
sehingga sulit dipentaskan.
2. Drama
treatikal (Drama yang dipentaskan)
Drama
treatikal adalah drama yang dapat dipentaskan. Drama treatikal dipentaskan di
atas pentas atau panggung.
3. Drama
radio
Drama
radio adalah drama yang ditayangkan atau dipentaskan melalui radio. Drama radio
mementingkan dialog yang diucapkan melalui media radio. Drama radio biasanya
direkam melalui kaset. Misalnya, selingan music, sound effect, dan jenis suara.
Adegan dan babak dalam drama radio dapat diganti sebanyak mungkin karena tidak
perlu menyiapkan pergantian dekor. Misalnya sahur sepuh.
4. Drama
televise
Drama televisi
adalah drama yang ditayangkan atau dipentaskan melalui media televisi.
Kelebihan drama televisi adalah dalam melukiskan flashback (kenangan masa
lalu). Drama televisi berbentuk scenario . drama televisi ditampilkan dalam
bentuk film, sinetron, atau telenovela.
3. Berdasarkan
bentuknya
a. Sandiwara
Sandiwara
berasal dari dua kata bahasa jawa, yaitu sandi yang berarti rahasia dan warah
yang berarti ajaran. Sandiwara berarti suatu pengajaran yang diberikan secara
rahasia dalam bentuk tontonan.
b. Teater
rakyat
Teater
rakyat adalah segala jenis tontonan yang dipertunjukan di depan orang banyak
dan bersifat kerakyatan. Seperti ketoprak dari jawa, lundruk dari jawa timur,
arja dari bali, lenong dari Jakarta, dan sebagainya.
c. Opera
Opera adalah drama
yang berisikan nyanyian dan music pada saat pementasanya. Nyanyian digunakan
sebagai dialog. Opera sering disebut drama musical.
d. Sendratari
Sendratari adalah seni drama tari atau drama tanpa dialog dari pemainanya.
Suasana dan adegan dinyatakan dengan gerak yang berunsur tari. Sendratari
sebagian besar diangkat dari cerita-cerita klasik, seperti Ramayana dan
mahabarata.
e. Pantomim
Pantomim
adalah pertunjukan drama tanpa kata-kata yang hanya dimainkan dengan gerak dan
ekspresi wajah biasanya diiringi music.
f. Operet
atau Operette
Operet
adalah opera yang ceritanya lebih pendek.
g. Tableau
Tableau
adalah drama yang mirip pantomim yang dibarengi oleh gerak-gerik anggota tubuh
dan mimik wajah pelakunya. Atau drama tanpa kata-kata, dan pelaku hanya
mengandalkan gerak patah-patah.
h. Passie
Passie
adalah drama yang mengandung unsur agama atau religius.
i. Wayang
Wayang
adalah drama yang pemain dramanya adalah boneka wayang.
j. Minikata
Drama
dengan cakapan singkat yang mengandalkan gerak treatikal.
4. Menurut
masanya
drama dapat dibedakan dalam
dua jenis yaitu drama baru dan drama lama.
a. Drama
Baru (Modern)
Drama
baru adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada
mesyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.
b. Drama
Lama (Klasik)
Drama
lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian,
kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan
lain sebagainya.
5. Hal-hal yang Perlu di
Perhatikan dalam Pementasan Drama
Didalam
pementasan drama ini ada beberapa istilah-istilah yang perlu diketahui, yaitu:
1. Prolog yaitu kata –kata pembukaan dalam suatu
pementasan drama.
2. Epilog yaitu kata-kata penutup dalam suatu pementasan
drama yang berisikanpesan, kesimpulan dan amanat.
3. Monolog yaitu berbicara sendiri dalam suatu pementasan
drama.
4. Dialog
yaitu bagian dari naskah drama atau percakapan para pemain.
Selain
itu, hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah:
a. Tata
panggung
Sesuaikah
tata panggung dengan tema tersebut? Misalnya tema tentang keadaan perang, tentu
saja tata panggung harus bisa menggambarkan hal itu.
b. Pemeran
Pemeran sangat
memengaruhi berhasil tidaknya suatu pertunjukan drama. Pemeran harus mampu
menampilkan watak dari tokoh yang diperankannya.
c. Kostum
Kostum
akan mendukung pementasan tersebut. Pemilihan kostum harus sesuai karakter
tokoh yang diperankannya.
d. Suara
Suara
sangat memengaruhi kelancaran suatu pementasan. Suara dapat berupa vokal si
pemain ataupun musik yang mengiri pementasan itu. Penggunaan pengeras suara
sangat diperlukan jika pemain tidak dapat bersuara secara lantang dan jelas.
B. DAFTAR PUSTAKA
Dalam penulisan makalah, penulisan ilmiah,
skripsi, buku dan lain-lain terdapat lembar daftar pustaka, terdapat beberapa
hal terkait dengan daftar pustaka yang harus anda ketahui, antara lain :
1. Pengertian
Daftar Pustaka
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
adalah daftar yang mencantumkan judul buku, nama pengarang, penerbit, dan sebagainya.
Yang ditempatkan pada bagian akhir suatu karya tulis atau buku dan disusun
berdasarkan abjad. Menurut Gorys Keraf yang dimaksud dengan
daftar pustaka atau bibliografi adalah sebuah daftar yang berisi judul
buku-buku, artikel-artikel, dan bahan-bahan penerbitan lainnya yang mempunyai
pertalian dengan sebuah karangan yang sedang dikerjakan.
Melalui daftar pustaka pembaca atau penulis
dapat melihat kembali kepada sumber aslinya. Mereka dapat menetapkan apakah
sumber itu sesungguhnya mempunyai keterkaitan dengan isi pembahasan itu, dan
apakah bahan itu dikutip dengan benar atau tidak. Dan sekaligus dengan cara itu
pembaca dapat memperluas pula pengetahuannya dengan bermacam-macam referensi itu.
2. Fungsi
Daftar Pustaka
Dari daftar pustaka banyak hal yang dapat
kita peroleh, antara lain:
a. Memberikan
informasi bahwa pernyataan yang dibuat bukan hasil pemikiran sendiri tapi juga
ditambahkan dengan pemikiran orang lain.
b. Apabila
pembaca menginginkan mendalami lebih jauh pernyataan yang dikutip, dapat
membaca sendiri referensi yang menjadi sumber kutipan.
c. Memberikan
apresiasi atau penghargaan terhadap penulis buku yang telah membantu kita dalam
penulisan karya tulis yang kita selesaikan.
d. Menjaga
profesionalitas penulis terhadap karya tulis yang telah dia buat.
3. Unsur-unsur
Daftar Pustaka
3.
Hal yang perlu diketahui dalam penulisan daftar pustaka, yaitu :
a. Nama
pengarang, yang dikutip secara lengkap.
b. Judul
buku, termasuk judul tambahannya.
c. Data
publikasi, nama penerbit, tempat terbit, tahun terbit, edisi buku tersebut.
Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul
artikel yang bersangkutan, nama majalah, jilid, nomor, dan tahun.
4.
Jenis-jenis Daftar Pustaka
a.
Kelompok Textbook
Ø Penulis perorangan.
Ø Kumpulan karangan beberapa
penulis dengan editor.
Ø Buku yang ditulis / dibuat oleh
lembaga.
Ø Buku terjemahan.
b. Kelompok
Jurnal
Ø Artikel yang disusun oleh
penulis.
Ø Artikel yang disusun oleh
lembaga.
Ø Kelompok makalah yang
diresentasikan dalam seminar / konferensi / symposium.
c. Kelompok disertasi/tesis
d. Kelompok makalah/informasi dari Internet
5. Penyusunan
Daftar Pustaka
Penyusunan daftar pustaka dan penunjukannya
pada naskah mengikuti salah satu dari tiga sistem berikut :
a.
Nama
dan Tahun (Name and Year System). Daftar pustaka disusun secara abjad
berdasarkan nama akhir penulis dan tidak dinomori. Penunjukan pada naskah
dengan nama akhir penulis diikuti tahun penerbitan.
b.
Kombinasi
Abjad dan Nomor (Alphabet-Number System). Pada sistem ini cara penunjukannya
dalam naskah adalah dengan memberikan nomor sesuai dengan nomor pada daftar
pustaka yang disusun sesuai abjad.
c.
Sistem
Nomor (Citation Number System). Kutipan pada naskah diberi nomor
berurutan dan susunan daftar pustaka mengikuti urutan seperti tercantum
pada naskah dan tidak menurut abjad.
6. Metode
Havard
Sistem Harvard menggunakan nama
penulis dan tahun publikasi dengan urutan pemunculan berdasarkan nama penulis
secara alfabetis. Publikasi dari penulis yang sama dan dalam tahun yang sama
ditulis dengan cara menambahkan huruf a, b, atau c dan seterusnya tepat di
belakang tahun publikasi (baik penulisan dalam daftar pustaka maupun sitasi
dalam naskah tulisan). Alamat Internet ditulis menggunakan huruf italic.
7. Cara
Penulisan Daftar Pustaka Textbook
a.
Buku
yang ditulis/dibuat oleh lembaga: Nama lembaga, tahun terbit, judul buku (cetak
miring atau garis bawah), edisi dan volume, nama penerbit, tempat penerbit
(kota), halaman yang dibaca.
b.
Buku
terjemahan: Nama penulis (disusun balik), tahun terbit, judul buku (cetak
miring atau garis bawah), penerjemah, nama penerbit, tempat penerbit (kota),
halaman yang dibaca.
8. Cara
Penulisan Daftar Pustaka Jurnal dan Disertasi/Tesis
a. Kelompok
makalah yang dipresentasikan dalam seminar/konferensi/simposium: nama penulis
(disusun balik), tahun penyajian, judul makalah, nama forum penyajian (cetak
miring atau garis bawah), kota, bulan dan tanggal penyajian.
b. Kelompok
disertasi/tesis: Nama penulis (disusun balik), tahun terbit, judul
disertasi/tesis (centang miring atau garis bawah), tempat penerbitan (kota),
universitas, kata “disertasi” atau “tesis”.
Adapun contoh Daftar Pustaka sebagai berikut:
Ø Badruldzaman,
Mariam Darus, dkk., Kumpulan Makalah diskusi Mengenai
PenyelesaianMasalah Kredit Macet Perbankan, Bank Indonesia, Jakarta 4-5
Oktober 1993.
Ø Djumhana,
Muhammad, Hukum Perbankan di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung,1996.
Ø Harahap,
M. Yahya, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993.
9. Cara
Penulisan Daftar Pustaka dari Internet
a.
Kelompok makalah/informasi dari Internet (apabila ada nama penulis): Nama
penulis (disusun balik), tahun penyajian, judul makalah / informasi, alamat
Internet.
b. Kelompok
makalah/informasi dari Internet (apabila tidak ada nama penulis) nama lembaga
yang menulis, tahun penyajian, judul makalah / informasi, alamat Internet[5].
C. CATATAN KAKI
1.
Pengertian Catatan Kaki
Catatan
kaki atau yang juga dikenal dengan istilah footnote adalah
daftar keterangan khusus yang ditulis di bagian bawah setiap lembaran atau
akhir bab karangan ilmiah. Atau secara lengkap, Catatan kaki adalah
keterangan tambahan yang terletak di bagian bawah halaman dan dipisahkan dari
teks karya ilmiah oleh sebuah garis sepanjang dua puluh ketukan (dua puluh
karakter).
2. Tujuan
Catatan Kaki
Pencantuman
catatan kaki diperlukan dalam penulisan karya ilmiah. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui
sumber referensi yang menjadi kajian peneliti. Selain itu, penulisan catatan
kaki juga mempunyai tujuan untuk menyusun pembuktian (sumber tulisan),
menyatakan utang budi (kepada pengarang yang dikutip pendapatnya), menyampaikan
keterangan tambahan, memperkuat uraian (intisari, keterangan incidental materi
penjelas yang kurang penting, perbaikan, dan pandangan yang bertentangan), dan
merujuk bagian lain teks (uraian pada halaman lain, sebelum atau sesudahnya).
3. Fungsi
Catatan Kaki
a. Menjelaskan
referensi yang dipergunakan bagi pernyataan dalam teks (catatan kaki sumber
atau reference footnote).
b. Menjelaskan
komentar penulis terhadap pernyataan dalam teks yang dipandang penting, tetapi
tak dapat dinyatakan bersama teks karena dapat mengganggu alur tulisan.
c. Sebagai
keterangan mengenai suatu hal yang dikemukakan dalam karangan ilmiah di halaman
tersebut.
d. Menunjukkan
sumber lain yang membicarakan hal yang sama (catatan kaki isi ataucontent
footnote). Jenis catatan kaki ini biasanya menggunakan kata‐kata: Lihat …, Bandingkan
…, dan Uraian lebih lanjut dapat dilihat dalam …, dan sebagainya. Dianjurkan
penggunaannya tidak berlebihan agar tidak menimbulkan kesan pamer. Penggunaan
ungkapan tersebut perlu secara konsisten dan benar.
4. Teknik
Penulisan Catatan Kaki
a. Penulisan
Catatan Kaki untuk Buku
Unsur yang diperlukan
dicantumkan adalah:
1) Nama
Pengarang,
2) Judul
Buku yang ditulis dengan huruf italic,
3) Jilid,
4) Cetakan,
5) Tempat
Penerbit,
6) Nama
Penerbit,
7) Tahun
diterbitkan, dan
8) Halaman
(disingkat h. saja, baik untuk satu halaman maupun beberapa halaman) dari mana
referensi itu berasal.
Contoh:
1Muhammad
Ibn ‘Abdillah al‐Zarkasyiy, al‐Burhân fî ‘Ulum
al‐Qur’an, Juz
IV (Cet. I; Cairo: Dar Ihya’ al‐Kutub
al‐Arabiyah, 1958 M/1377 H),h.
34‐35.
b. Penulisan
Catatan Kaki untuk Artikel dalam Majalah atau Surat Kabar
Unsur yang perlu dicantumkan adalah:
1) Nama
Pengarang/Penulis Artikel (jika ada),
2) Judul
Artikel (di antara tanda kutip),
3) Nama
Surat Kabar (penulisan dimiringkan),
4) Nomor
Edisi, Tanggal, dan Halaman.
Jika
yang dikutip bukan artikel tetapi berita atau tajuk atau lainnya, maka yang
dicantumkan adalah judul
tajuk atau beritanya (di antara tanda kutip), diikuti dengan penjelasan apakah
itu tajuk atau berita yang dituliskan di antara kurung siku, diikuti nama surat
kabar (penulisan dimiringkan), nomor terbitan, tanggal, dan halaman.
Contoh:
Sayidiman
Suryohadiprojo, “Tantangan Mengatasi Berbagai Kesenjangan”, Republika, No.
342/II, 21 Desember 1994, h. 6.
3”PWI
Berlakukan Aturan Baru” [Berita], Republika, No. 346/II, 28
Desember 1994, h. 16.
Bachrawi
Sanusi, “Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi,” Panji
Masyarakat, No.
808, 1‐10 Nopember 1994, h. 30.
c. Penulisan Catatan
Kaki untuk Buku yang memuat Artikel-artikel dari Berbagai Pengarang.
Bila mengutip buku yang seperti ini, maka
perlu diperhatikan artikel yang dikutip, dan siapa pengarangnya.
Unsur yang perlu disebutkan adalah:
1) Nama
Penulis Artikel,
2) Judul
Artikelnya di antara tanda kutip,
3) Nama
Editor Buku (kalau ada) atau Nama Pengarang Artikel Pertama, diikuti
istilah et al. atau dkk. (karena tentu banyak orang yang
menyumbangkan artikel),
4) Data
Penerbitan, dan Halaman.
Contohnya:
5M.
Dawam Rahadjo, “Pendekatan Ilmiah terhadap Fenomena Keagamaan,” dalam Taufik
Abdullah dan M. Rusli Karim (eds.), Metodologi Penelitian Agama (Cet.
II; Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), h. 24.
d. Penulisan
Catatan Kaki untuk Artikel atau Entri dan Ensiklopedia
Unsur yang perlu
dicantumkan adalah:
1) Nama
Penulis Entri (jika ada),
2) Judul
Entri di antara dua tanda kutip,
3) Nama
Editor Ensiklopedia (kalau ada),
4) Nama
Ensiklopedia (huruf italic),
5) Jilid,
6) Data
Penerbitan, dan
7) halaman.
Contohnya:
7Beatrice
Edgel, “Conception”, dalam James Hastings (ed.),Encyclopedia of Religion and
Ethics, jilid 3 (New York: Charles Schribner’s Son, 1979), h. 769.
e. Penulisan
Catatan Kaki untuk Undang-undang dan Penerbitan Resmi Pemerintah
Unsur yang perlu
dicantumkan adalah:
1) Nama
Instansi yang berwenang,
2) Judul
Naskah (huruf italic).
Contohnya:
8Republik
Indonesia, Undang‐undang
Dasar 1945, Bab I, pasal 1.
5. Ketentuan-ketentuan
yang Penting Diperhatikan dalam Penulisan Catatan Kaki
a. Bila catatan kaki lebih dari satu baris
maka baris kedua dan selanjutnya diketik di awal margin kiri.
b. Antara baris terakhir teks
dengan nomor catatan kaki diberi garis sepanjang dua puluh ketukan sebagai
pembatas. Antara baris terakhir teks dengan garis pembatas itu berjarak dua
spasi, sedang jarak antara garis pembatas itu dengan teks catatan kaki berjarak
dua spasi juga.
c. Jarak baris terakhir sebuah
catatan kaki dengan baris pertama catatan kaki berikutnya adalah dua spasi.
6. Istilah
Ibid, Op. Cit. Dan Loc, Cit
Istilah Ibid. (singkatan
dari ibidem) digunakan untuk menunjuk sumber yang sama,
yang baru saja disebut tanpa ada yang mengantarai keduanya (sama halaman
atau tidak). Jika halaman yang dikutip sama, maka nomor halaman
tidakdicantumkan lagi. Kalau kata ibid. terletak di awal
catatan kaki, huruf awalnya ditulis dengan huruf capital (Ibid), sedang
bila terletak di tengah misalnya sesudah kata‐kata
“Disadur dari” maka huruf pertamanya ditulis dengan huruf
kecil (ibid).
Istilah op.
cit. (singkatan dari opera citato, dan
singkatan harus diberi spasi diantaranya, op. cit., bukan op.cit.)
menunjuk kepada sumber yang sama telah disebut terdahulu tetapi di antarai
oleh sumber lain yang tidak sama halamannya. Istilah ini (op. cit.)
digunakan sesudah menyebutkan nama pengarang. Jika halaman
yang dikutip sama, maka digunakan istilah loc.cit.(singkatan
dari loco citato).
Contohnya:
1William
H. Newman, Administrative Action (London: Prentice Hall, Inc., 1963), h.463 2Ibid.,
h. 473
3Pangripto,
“Manajemen Rumah Sakit”, Jurnal Kesehatan dan Gizi, Vol. 3 No.2, Juni 1998, hh. 55-58 4 William
H. Newman, loc. cit.
BAB III
PENUTUP
Puji syukur kami panjatkan
kehadirat Ilahi Robi, berkat rahmat-Nya makalah ini dapat diselesaikan tepat
pada waktuny. Dalam penyusunan makalah ini kami mendapatkan bimbingan dan
dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesemptan ini kami
sampaikan terima kasih kepada semua yang telah membimbing dan memberikan
dorongan kepada kami sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
Semoga makalah ini
bermanfaat bagi kita semua, amin….
DAFTAR
PUSTAKA
http://anjar-fajar.blogspot.co.id/2012/10/contoh-makalah-drama.html

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home