Wednesday, November 9, 2016

Makalah Evaluasi Pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian, Tujuan, Fungsi, dan Prinsip Evaluasi Pendidikan di SD       
Pendidikan memiliki arti yang lebih luas daripada pengajaran (Ki Hajar Dewantara dalam Sapriati, 2014:7.3). Menurut Ki hajar, pendidikan adalah peningkatan kemampuan yang diperoleh peserta didik tidak hanya dari guru selama belajar tetapi juga dari apa dan siapa saja (lingkungan) selama peserta didik dalam keadaan bangun. Pada tahun 1935, beliau menyatakan bahwa pendidikan/pengajaran bertujuan mengembangkan cipta, rasa, dan karsa peserta didik. B.S. Bloom pada tahun 1956, menjabarkan tujuan pendidikan seperti itu lebih rinci yang terkenal dengan taksonomi tujuan pendidikan, yaitu:
a. Ranah kognitif (ranah proses berpikir)
b. Ranah afektif (ranah sikap hidup)
c. Ranah psikomotor (ranah keterampilan fisik)
Jika disejajarkan dengan pendapat Ki Hajar, maka taksonomi Bloom disajikan dalam tabel berikut:
Ranah
B.S. Bloom
Ki Hajar Dewantara
Proses berpikir
Kognitif
Cipta
Sikap hidup
Afektif
Rasa
Keterampilan fisik
Psikomotor
Karsa

Penilaian berarti pengukuran keberhasilan seseorang dalam proses maupun keberhasilan pembelajaran. Yang diukur tidak hanya materi yang dikuasai tetapi juga dampak materi itu terhadap jenjang proses berpikir, jenjang pengembangan kepribadian, dan jenjang kemampuan keterampilan.
Penilaian merupakan bagian terpenting dari proses pembelajaran.  Karena dari proses pembelajaran tersebut guru perlu mengetahui seberapa jauh proses pembelajaran tersebut telah mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Menurut Nana Sudjana (1995: 3) bahwa penilaian mempunyai ciri-ciri adanya objek atau program yang dinilai dan adanya kriteria sebagai dasar untuk membandingkan antara kenyataan atau apa adanya dengan kriteria atau apa harusnya. Perkembangan konsep penilaian pendidikan yang ada pada saat ini menunjuk arah yang lebih luas, konsep-konsep tersebut pada umumnya berkisar pada pandangan sebagai berikut :
(1)   Penilaian tidak hanya diarahkan kepada tujuan pendidikan yang ditetapkan, tetapi juga terhadap tujuan-tujuan yang ditimbulkan dan efek sampingnya.
(2)   Penilaian tidak hanya melalui pengukuran perilaku siswa, tetapi juga melakukan pengkajian terhadap komponen-komponen pendidikan, baik proses maupun keluaran.
(3)   Penilaian tidak hanya untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, tetapi juga untuk mengetahui apakah tujuan-tujuan tersebut penting bagi siswa dan bagaimana siswa mencapaianya. (Enny Sudaryanti, 2007)
2.1.1 Fungsi dan Tujuan Penilaian
Fungsi dari penilaian menurut Nana Sudjana, (1995: 4) adalah sebagai berikut:
(1)   Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan intruksional.
Dengan demikian penilaian harus mengacu pada rumusan-rumusan tujuan intruksional.
(2)   Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar.
Perbaikan mungkin dilakukan dalam hal tujuan intruksional, kegiatan belajar siswa, strategi mengajar guru dan lain-lain.
(3)   Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para orang tua. Dalam laporan tersebut dikemukakan kemampuan dan kecakapan belajar siswa dalam berbagai bidang studi dalam bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapainya
Penilaian di sini berfungsi sebagai alat untuk mengetahui seberapa berhasilkah proses belajar mengajar yang terjadi. Selain itu juga sebagai perbaikan dalam melakukan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan siswa. Dan juga sebagai laporan kemauan belajar siswa yang diberikan kepada orang tua agar orang tuanya mengetahui hasil belajar anaknya dalam bentuk raport yang biasanya diberikan pada akhir semester.
Fungsi penilaian yang lainnya di sini bukan hanya untuk menentukan kemajuan belajar siswa, tetapi sangat luas. Fungsi penilaian adalah sebagai berikut:
(a)    Penilaian membantu siswa merealisasikan dirinya untuk mengubah atau mengembangkan perilakunya.
(b)   Penilaian membantu siswa mendapat kepuasan atas apa yang telah dikerjakannya.
(c)    Penilaian membantu guru untuk menetapkan apakah metode mengajar yang digunakannya telah memadai.
(d)   Penilaian membantu guru membuat pertimbangan administrasi.
(Cronbach, 1954 dalam Hamalik, 2002: 204).
Fungsi penilaian sebagai alat untuk membantu siswa dalam mewujudkan dan mengubah perilakunya sesuai dengan tata tertib yang ada. Di sini juga siswa mendapat kepuasan atas apa yang dikerjakannya yang berupa nilai. Apabila mereka sungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu maka hasil yang didapatkan akan bagus sehingga mereka akan puas dengan hasil yang didapatkannya. Penilaian juga membantu guru dalam menetapkan metode yang digunakan telah tepat diterapkan.
Sedangkan tujuan dari penilaian menurut Nana Sudjana, (1995: 4) adalah sebagai berikut :
1)      Mendeskripsikan kecakapan belajar siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya.
2)      Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.
3)      Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi pelaksanaanya.
4)      Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak yang dimaksud meliputi pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa.
Dari pendapat di atas, penilaian mempunyai tujuan mendeskripsikan hasil belajar siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangan siswa dalam proses pembelajaran tersebut. Selain itu juga dapat mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, di sini dapat terlihat berhasil tidaknya guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Apabila hasilnya kurang baik maka dapat dilakukan perbaikan dan penyempurnaan proses pendidikan sehingga dapat memberikan pertanggungjawaban terhadap pihak sekolah.


Jenjang setiap ranah dapat dilukiskan sebagai berikut:
R. Kognitif (C)
R. Afektif (A)
R. Psikomotor (P)
C6 Penilaian
A5 Menjadi pola hidup
P5 Gerak kompleks
C5 Sintesis
A4 Mengatur diri
P4 Gerak mekanik
C4 Analisis
A3 Menghargai
P3 Menirukan
C3 Penerapan
A2 Menanggapi
P2 Siap bertindak
C2 Pemahaman
A1 Menerima
P1 Persepsi
C1 Ingatan

Guru dalam proses pembelajaran berupaya memahirkan peserta didik melalui latihan. Pada setiap latihan tersebut penilaian mulai berperan. Artinya, untuk menentukan bahwa peserta didik telah mahir “mengingat” diperlukan penilaian, dan seterusnya. Kemahiran di setiap jenjang dapat diukur dengan alat ukur (tes) untuk mengetahui tingkat kemahiran.
RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang disusun guru harus tergambar konsep apa yang ingin dikembangkan pada ranah mana dan pada jenjang apa. RPP dipedomani dalam proses belajar mengajar (proses pembelajaran) juga dipedomani dalam evaluasi proses maupun evaluasi hasil pembelajaran.


Hubungan RPP dengan proses dan evaluasi digambarkan sebagai berikut:
                        




Menurut Tyler bagan tersebut di atas disempurnakan karena menurutnya ada hubungan timbal balik antara ketiga aspek tersebut.
                     





Setiap tujuan/indikator pembelajaran memiliki proses pembelajaran tertentu dan mempunyai alat ukur (tes) tertentu. Setelah proses pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut selesai, perlu diadakan penilaian apakah benar-benar tujuan telah tercapai. Kalau hasilnya baik, berarti proses sudah baik dan tujuan pembelajaran sudah dicapai jika sebaliknya, berarti:
1. Proses pembelajaran kurang baik/kurang tepat, dengan demikian guru harus mengulangi proses pembelajaran dengan metode yang tepat.
2.  Kemungkinan proses pembelajaran sudah tepat, hasil evaluasi rendah terjadi karena kompetensi terlalu tinggi sebab ada tujuan yang lebih rendah/prasyarat yang harus dikuasai lebih dulu. Proses pembelajaran harus diulangi dengan berpedoman pada kompetensi yang lebih rendah.
Proses penyempurnaan hasil evaluasi atau proses peningkatan daya serap disebut evaluasi proses atau evaluasi formatif. Sebaiknya evaluasi proses dilakukan tertulis agar semua peserta mendapat kesempatan yang sama mengemukakan jawaban. Untuk kepentingan tertentu, evaluasi dapat juga dilakukan dengan lisan terutama guru yang telah mengetahui pemetaan kemampuan siswanya. Tingkat penguasaan hasil peserta didik akan lebih akurat jika tes hasil belajar sering dilakukan.  
Pada ulangan harian, salah satu siswa dapat menjawab 3 dari 5 pertanyaan tes uraian tetapi pada ulangan harian sebelumnya salah satu siswa tersebut hanya dapat mengerjakan dua dari lima butir soal yang disediakan.
- Pertanyaan yang diberikan kepada siswa adalah contoh alat ukur untuk mengukur hasil belajar siswa. Alat ukur itu mengacu pada pengertian tes.
- Keberhasilan siswa menjawab benar 3 dari 5 pertanyaan merupakan hasil pengukuran. Penggunaan alat ukur yang menghasilkan angka-angka ini mengacu pada pengertian pengukuran.
- Membandingkan hasil ulangan harian pertama dan kedua, mengacu pada pengertian assesmen. 
- Pernyataan tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan mengacu pada pengertian evaluasi.
Tes merupakan alat ukur untuk memperoleh nformasi hasil belajar siswa yang memerlukan jawaban benar atau salah. Yang termasuk kelompok tes adalah tes objektif dan tes uraian. Yang termasuk kelompok bukan tes (nontes) antara lain pedoman pengamatan, skala rating, skala sikap, dan pedoman wawancara. 
Pengukuran adalah kegiatan penentuan angka dari suatu objek yang diukur. Penentuan angka ini merupakan suatu upaya penggambaran karakteristik suatu objek.
Assesmen adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi hasil belajar siswa yang diperoleh dari berbagai jenis tagihan dan mengolah informasi tersebut untuk menilai hasil belajar dan perkembangan belajar siswa. Tagihan yang digunakan dalam assesmen antara lain: kuis, ulangan harian, tugas individu, tugas kelompok, ulangan akhir semester, laporan kerja, dan lain-lain. 
Evaluasi merupakan penilaian keseluruhan program pendidikan mulai perencanaan suatu program substansi pendidikan termasuk kurikulum dan penilaian (assesmen) serta pelaksanaannya, pengadaan dan peningkatan kemampuan guru, manajemen pendidikan, dan reformasi pendidikan secara keseluruhan. Evaluasi bertujuan untuk meingkatkan kualitas, kinerja, atau produktivitas suatu lembaga dalam melaksanakan programnya. 
Prinsip-prinsip Penilaian:
a. Berorientasi pada pencapaian kompetensi
b. Valid artinya mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk itu diperlukan alat ukur yang menghasilkan hasil pengukuran yang valid dan reliabel. 
c. Adil artinya adil bagi seluruh siswa. Setiap siswa memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama
d. Objektif artinya tidak boleh terpengaruhi unsur subjektivitas penilai agar pelaksanaan, penskoran, dan pengambilan keputusan tidak merugikan siswa.
e. Berkesinambungan artinya terencana, bertahap, teratur, terus-menerus, dan berkesinambungan untuk memperoleh informasi hasil belajar dan perkembangan belajar siswa. 
f. Menyeluruh, berarti penilaian yang dilakukan mampu menilai keseluruhan kompetensi yang terdapat dalam kurikulum yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. 
g. Terbuka, kriteria penilaian terbuka bagi berbagai kalangan sehingga keputusan hasil belajar siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan. 
Bermakna, hasil penilaian bermakna bagi siswa dan pihak-pihak yang berkepentingan. Hasil penilaian dapat memberikan gambaran mengenai tingkat pencapaian hasil belajar siswa, keunggulan dan kelemahan siswa, minat, serta potensi siswa dalam mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

2.2 Evaluasi Proses Belajar IPA di SD   
2.2.1 Pengertian Evaluasi Proses Belajar IPA
Evaluasi proses bermaksud untuk mendapatkan informasi sejauh mana kegiatan pembelajaran membawa pengaruh pada peserta didik. Hasil evaluasi proses yang kurang memuaskan berarti terdapat kekurang sempurnaan dalam pembelajaran dan harus diperbaiki segera sehingga hasil evaluasi setelah perbaikan proses menjadi sempurna atau lebih baik daripada hasil evaluasi proses yang pertama.  

2.2.2 Tujuan Mata Pelajaran IPA di SD
Dalam KTSP, tujuan tercantum tujuan mata pelajaran IPA di SD:
1. Memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
2. Memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang alam sekitarnya.
3. Mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di lingkungan sekitar.
4. Bersikap ingin tahu, tekun, terbuka kritis, mawas diri, bertangung jawab, bekerja sama, dan mandiri.
5. Mampu menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
6. Mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untuk memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
7. Mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga mempunyai kesadaran dan keagungan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Dikaitkan dengan tujuan pendidikan menurut taksonomi Bloom, nomor 1, 5, dan 6 termasuk ranah kognitif,  nomor 3, 4, 7 termasuk ranah afektif,  dan tujuan nomor 2 dan 6 termasuk ranah psikomotor.
        
2.2.3 Alat Evaluasi Proses Belajar IPA di SD
Alat evaluasi proses pembelajaran IPA yang dperlukan terdiri dari alat evaluasi untuk mengukur kognitif, alat evaluasi untuk menentukan kualitas hati nurani, dan alat untuk mengukur kemampuan keterampilan.
a. Alat evaluasi untuk mengukur kognitif
Alat evaluasi untuk mengukur kognitif berupa tes sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tes dapat berbentuk objektif atau uraian (esai). Teknik pemberian tes secara tertulis dapat dengan pertanyaan objektif yaitu melengkapi pilihan. Teknik lainnya dengan menyampaikan pertanyaan secara lisan.
b. Alat evaluasi untuk menentukan kualitas hati nurani
Penilaian afektif meliputi lima jenjang:
A5 Menjadi pola hidup
A4 Mengatur diri
A3 Menghargai
A2 Menanggapi
A1 Menerima
Lebih mudah melatih anak didik untuk menghafal, memahami, menerapkan hukum, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya kognitif daripada melatih anak didik supaya berdisiplin, menghargai pendapat orang lain, tenggang rasa, tepat waktu, mau bekerja sama, dan sebagainya. Latihan ranah afektif dilakukan terus-menerus selama proses pembelajaran agar meningkat menjadi jenjang A5 atau mejadi pola hidup. Contoh yang dilatih adalah disiplin. Guru mengamati dan mengobservasi apakah siswa tepat waktu dalam hal:
1.      Datang di kelas/sekolah
2.      Membayar uang sekolah
3.      Mengikuti upacara bendera
4.      Mengerjakan pekerjaan rumah
5.      Mengerjakan tugas praktikum
6.      Membersihkan kebun sekolah
7.      Mengerjakan shalat tepat waktu
8.      Menepati janji
9.      Mengembalikan pinjaman pada waktu yang dijanjikan.
Alat yang digunakan untuk menentukan adanya perubahan selama pelatihan adalah melalui observasi. 
c. Alat evaluasi yang akan mengukur keterampilan
Jenis keterampilan yang harus dikembangkan dalam IPA
1) Keterampilan menggunakan tangan
-  Cara memegang gelas beker, seperti memegang gelas biasa namun harus terampil menuangkan isi yang harus dipindahkan ke tempat lain melalui “bibir” gelas yang sudah didesain untuk itu.
- Cara memegang termometer, menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan kanan, tempat memegangnya di tengah termometer. Juga dilatih bagaimana mengukur menggunakan termometer. Hal ini perlu dilakukan terus-menerus dan perlu bimbingan.
2) Keterampilan menggunakan indera penglihat
Observasi atau pengamatan adalah kegiatan yang sering dilakukan dalam proses pembelajaran IPA. Percobaan mengukur suhu air yang baru saja dipanaskan menggunakan termometer, si pembaca harus meletakkan matanya sama tinggi dengan permukaan air raksa termometer agar tidak keliru membaca skala.


3) Keterampilan menggunakan indera pengecap
Yang dilatihkan di SD adalah mengecap rasa manis, pahit, dan asam pada bagian tertentu dari lidah.
4) Keterampilan menggunakan indera pencium
Merasakan bau dalam proses pendidikan IPA di SD lebih banyak dilatihkan daripada mengecap rasa. Contoh: a) mengenali bau cuka di dapur, b) bau tape dibandingkan dengan bau cuka, c) mengenal bau belerang, d) bau gas pada tukang las karbit, e) bau di tempat pembuangan sampah, dan sebagainya.      
                
2.2.4 Cara Menyusun Alat Evaluasi Proses Pembelajaran IPA 
a. Ranah Kognitif
Untuk mengetahui kemampuan kognitif guru dapat bertanya secara lisan maupun dalam bentuk tertulis misalnya dengan menggunakan tes objektif misalnya pilihan ganda dengan 4 pilihan jawaban.
Contoh soal:
Gas yang paling banyak volumenya di udara adalah ....
A. Hidrogen
B. Helium
C. Oksigen
D. Nitrogen
Butir soal di atas masih mengukur C1(ingatan).
Untuk mengukur kemampuan C2 (memahami) guru dapat membuat pertanyaan :
- Jelaskan mengapa perbandingan volume oksigen dengan volume nitrogen di udara selalu tetap, walaupun udara tersebut diambil dari tempat A maupun dari tempat B!
Jika diubah dalam bentuk objektif:
Perbandingan volume oksigen dan volum nitrogen di udara yang diambil dari berbagai tempat akan selalu sama karena ....
A. Udara merupakan campuran dari berbagai jenis gas
B. Adanya angin yang selalu bergerak, campuran dalam gas dalam udara menjadi homogen
C. Proses fotosintesis menyebabkan volume oksigen di udara menjadi tetap
D. Bernapas artinya mengambil oksigen dari udara, sedangkan fotosintesis mengeluarkan oksigen ke udara
b. Ranah Psikomotor
Percobaan menentukan volume oksigen di udara mengembangkan keterampilan: menelungkupkan gelas pada lilin yang sedang terbakar dan terapung di atas air dan keterampilan lain. Guru mengamati menggunakan lembar observasi misalnya sebagai berikut:
Lembar Observasi
Menentukan Volume Oksigen di Udara
No
Kegiatan yang Dilatihkan
Kualitas kegiaatn (beri tanda check)
Baik
Sekali
Baik
Kurang
Baik
Sangat
kurang baik
1
Memilih alat dan bahan yang sesuai
2
Cara menyalakan lilin
3
Cara meletakkan batang penyangga
4
Cara menuangkan air di bejana
5
Cara menelungkupkan gelas kosong di atas lilin
6
Cara memberi tanda permukaan air sebelum percobaan
7
Cara memberi tanda permukaan air sesudah percobaan
8
Membersihkan alat yang sudah digunakan
9
Menyimpan alat dan bahan yang sudah digunakan

c. Ranah Afektif
Adanya kerja kelompok dalam percobaan telah membuahkan sifat tenggang rasa yang makin tinggi dapat dicatat melalui pengamatan.
Indikator tenggang rasa misalnya:
a. Tidak memaksakan kehendak sendiri
b. Mau menerima pendapat orag lain
c. Tidak mudah tersinggung
d. Kesediaan menjalin persahabatan tanpa pamrih
Contoh Format Observasi:
Format Observasi: Kualitas Kepribadian
No
Kegiatan yang Dilatihkan
Kualitas kegiaatn (beri tanda check)
Baik
Sekali
Baik
Kurang
Baik
Sangat
kurang baik
1
2

3

4
5
Tenggang rasa/toleransi
Tidak memaksakan kehendak sendiri
Mau menerima pendapat orang lain
Tidak mudah tersinggung
Bersedia menjalin persahabatan tanpa pamrih

2.3 Evaluasi Hasil Belajar IPA di SD        
Untuk dapat mengukur kemampuan berpikir (kognitif, C), kemampuan keterampilan (psikomotor, P), dan kualitas kepribadian (afektif, A) diperlukan alat ukur (tes) yang dapat dipercaya, yaitu alat tes yang memiliki: a) validitas (ketepatan, kesahihan) yang tinggi, b) keseimbangan kesesuaian materi yang dipelajari, c) adaya pembeda yang minimal cukup, d) objektivitasnya tinggi, dan e) reliabilitas (ketetapan) yang tinggi.

2.3.1 Tes Evaluasi Belajar IPA di SD Ranah Kognitif    
Tes hasil belajar yang baik memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Penulisan konstruksi soal melengkapi kalimat, di akhir kalimat diberi empat titik.
b. Pilihan aternatif pada butir soal objektif berbentuk pilihan ganda hendaknya homogen.
c. Setiap butir soal tidak tergantung dengan soal lain, artinya setiap butir soal mengukur konsep yang beridiri sendiri
d. Memperhatikan efisiensi kalimat, jangan mengunakan kata yang sama pada pilihan jawaban.
e. Mempertimbangkan situasi dan kondisi untuk memilih cara pelaksanaan secara lisan atau tertulis, namun sebaiknya dilaksanakan tertulis jika butir yang ditanyakan cukup banyak.

2.3.2 Evaluasi Belajar IPA di SD Ranah Psikomotor      
Keterampilan peserta didik menggunakan dan merancang alat-alat IPA hanya diperoleh dari guru IPA. Hasil belajar keterampilan melalui IPA dapat diketahui melalui observasi cara merancang dan melaksanakan kegiatan. Alat ujinya adalah pedoman observasi. Kualitas keterampilan berupa pernyataan baik sekali, baik, kurang baik, dan kuang kualitas keterampilannya, diubah menjadi angka 1, 2, 3, dan 4. Skor tertinggi adalah banyaknya butir jenis keterampilan/indiator dikalikan 4.
Contoh sebagai berikut:
Lembar Observasi
Jenis Kegiatan: Memindahan cairan dari satu bejana ke bejana

No
Kegiatan yang Dilatihkan
Kualitas kegiaatn
(beri tanda check)
Baik
Sekali
(4)
Baik
(3)
Kurang
Baik
(2)
Sangat
kurang baik
(1)
1
Cara memegang kedua bejana
2
Ketelitian menuangkan
3
Kecepatan mengerjakan tugas
4
Hasil akhir

Nilai keterampilan IPA sebagai berikut:
NA =  x 100
Nilai akhir IPA (Teori dan Praktek)
a. Bobot praktek sama dengan bobot teori
NA =
b. Bobot praktek berbanding teori 1 : 3
NA = (¼ x Nilai Praktek) + (¾ xNilai Teori)

2.3.3 Nilai Hasil Pembelajaran IPA di SD Ranah Afektif           
Upaya peningkatan kualitas kepribadian menjadi tanggung jawab semua guru. Jika dilakukan dengan cara observasi dapat memakan waktu lama. menyiasati hal itu, digunakanlah angket dalam bentuk “Skala Likert” yakni skala sikap berupa pernyataan positif maupun negatif terhadap suatu hal dan siswa diminta pendapatnya: setuju sekali, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju.
Penyekoran pada skala sikap, jika pernyataan setuju, pilihan jawaban setuju sekali, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju diberi skor 4,3,2,1. Jika pernyataan negatif skor dibalikan menjadi 1,2,3,4. Pada waktu merakit naskah selalu diupayakan pernyataan yang positif diselang-seling dengan pernyataan negatif.
Contoh skala sikap:
Sikap yang diukur misalnya “tenggan rasa”
Pernyataan
Pilihan Jawaban
Sangat
Setuju
Setuju
Tidak
Setuju
Sangat
Tidak
Setuju
Saya lebih senang berteman dengan siswa yang pandai

Perkawinan antarsuku perlu digalakkan

Pangukuran hasil pembinaan peningkatan kualitas kepribadian ini dilakukan satu kali dalam satu periode.

2.4 Pengertian Hasil Belajar
Masalah belajar adalah masalah bagi setiap manusia, dengan belajar manusia memperoleh keterampilan, kemampuan sehingga terbentuklah sikap dan bertambahlah ilmu pengetahuan. Jadi hasil belajar itu adalah suatu hasil nyata yang dicapai oleh siswa dalam usaha menguasai kecakapan jasmani dan rohani di sekolah yang diwujudkan dalam bentuk raport pada setiap semester.
Untuk mengetahui perkembangan sampai di mana hasil yang telah dicapai oleh seseorang dalam belajar, maka harus dilakukan evaluasi. Untuk menentukan kemajuan yang dicapai maka harus ada kriteria (patokan) yang mengacu pada tujuan yang telah ditentukan sehingga dapat diketahui seberapa besar pengaruh strategi belajar mengajar terhadap keberhasilan belajar siswa. Hasil belajar siswa menurut W. Winkel (dalam buku Psikologi Pengajaran 1989:82)  adalah keberhasilan yang dicapai oleh siswa, yakni prestasi belajar siswa di sekolah yang mewujudkan dalam bentuk angka.
Menurut Winarno Surakhmad (dalam buku, Interaksi Belajar Mengajar, (Bandung: Jemmars, 1980:25)  hasil belajar siswa bagi kebanyakan orang berarti ulangan, ujian atau tes. Maksud ulangan tersebut ialah untuk memperoleh suatu indeks dalam menentukan keberhasilan siswa.
Dari definisi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa hasil belajar adalah prestasi belajar yang dicapai siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan pembentukan tingkah laku seseorang. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan pembelajaran khususnya dapat dicapai.
Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran khusus, guru perlu mengadakan tes formatif pada setiap menyajikan suatu bahasan kepada siswa. Penilaian formatif ini untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai tujuan pembelajaran khusus yang ingin dicapai. Fungsi penelitian ini adalah untuk memberikan umpan balik pada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan program remedial bagi siswa yang belum berhasil. Karena itulah, suatu proses belajar mengajar dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan pembelajaran  khusus dari bahan tersebut. 

2.5  Indikator Hasil Belajar Siswa
Yang menjadi indikator utama hasil belajar siswa adalah sebagai berikut:
a.  Ketercapaian daya serap terhadap bahan pembelajaran yang diajarkan, baik secara individual maupun kelompok. Pengukuran ketercapaian daya serap ini biasanya dilakukan dengan penetapan kriteria ketuntasan belajar minimal (KKM)
b.   Perilaku yang digariskan dalam tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.
      Namun demikian, menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (dalam buku  Strategi Belajar Mengajar 2002:120)  indikator yang banyak dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan adalah daya serap.

2.6 Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Siswa
      Hasil belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai hal.  Secara umum hasil belajar dipengaruhi tiga hal atau faktor-faktor tersebut diuraikan dibawah ini, yaitu : 
1. Faktor internal (faktor dalam diri) 
2. Faktor eksternal (faktor diluar diri) 
3. Faktor pendekatan belajar 
      Faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar yang pertama adalah aspek fsikologis. Untuk memperoleh hasil belajar yang baik, kebugaran tubuh dan kondisi panca indera perlu dijaga dengan cara: makanan/minuman bergizi, istirahat, olah raga. Tentunya banyak kasus anak yang prestasinya turun karena mereka tidak sehat secara fisik.
      Faktor internal yang lain adalah aspek psikologis. Aspek psikologis ini meliputi: intelegensi, sikap, bakat, minat, motivasi dan kepribadian. Faktor psikologis ini juga merupakan faktor kuat dari hasil belajar, intelegensi memang bisa dikembangkan, tapi sikap, minat, motivasi dan kepribadian sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis diri kita sendiri. Oleh karena itu, berjuanglah untuk terus mendapat suplai motivasi dari lingkungan sekitar, kuatkan tekad dan mantapkan sikap demi masa depan yang lebih cerah. 
      Selain faktor internal, hasil belajar juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Faktor eksternal meliputi beberapa hal, yaitu: 
1. Lingkungan sosial, meliputi : teman, guru, keluarga dan masyarakat. 
      Lingkungan sosial, adalah lingkungan dimana seseorang bersosialisasi, bertemu dan berinteraksi dengan manusia disekitarnya. Hal pertama yang menjadi penting dari lingkungan sosial adalah pertemanan, dimana teman adalah sumber motivasi sekaligus bisa menjadi sumber menurunnya prestasi. Posisi teman sangat penting, mereka ada begitu dekat dengan kita, dan tingkah laku yang mereka lakukan akan berpengaruh terhadap diri kita. Kalau kalian sudah terlanjur memiliki lingkungan pertemanan yang lemah akan motivasi belajar, sebisa mungkin arahkan teman-teman untuk belajar. Setidaknya dengan cara itu bisa memposisikan diri sebagai seorang pelajar. 
      Guru adalah seorang yang sangat berhubungan dengan hasil belajar. Kualitas guru di kelas, bisa mempengaruhi bagaimana kita balajar dan bagaimana minat kita terbangun di dalam kelas. Memang pada kenyataanya banyak siswa yang merasa guru mereka tidak memberi motivasi belajar, atau mungkin suasana pembelajaran yang monoton. Hal ini berpengaruh terhadap proses pembelajaran.
      Keluarga juga menjadi faktor yang mempengaruhi hasil belajar seseorang. Biasanya seseorang yang memiliki keadaan keluarga yang berantakan (broken home) memiliki motivasi terhadap prestasi yang rendah, kehidupannya terlalu difokuskan pada pemecahan konflik kekeluargaan yang tak berkesudahan. Maka dari itu bagi orang tua jadikanlah rumah keluarga sebagai surga, karena jika tidak anak yang baru lahir beberapa tahun lamanya belum memiliki konsep pemecahan konflik batin yang kuat mereka bisa stress melihat tingkah para orang tua yang suka bertengkar, stress itu dibawa ke dalam kelas.
       Yang terakhir adalah masyarakat sebagai contoh seorang yang hidup dimasyarakat akademik mereka akan mempertahankan gengsinya dalam hal akademik di hadapan masyarakatnya. Jadi lingkungan masyarakat mempengaruhi pola pikir seorang untuk berprestasi. Masyarakat juga dengan segala aktifitas kemasyarakatannya mempengaruhi tidakan seseorang begitupun juga berpengaruh terhadap siswa dan mahasiswa. 
2. Lingkungan non-sosial, meliputi : kondisi rumah, sekolah, peralatan, alam (cuaca). Non-sosial seperti hal nya kondisi rumah (secara fisik), apakah rapi, bersih, aman, terkendali dari gangguan yang menurunkan hasil belajar. Sekolah juga mempengaruhi hasil belajar, ketika anak pintar masuk sekolah biasa-biasa saja prestasi mereka bisa mengungguli teman-teman yang lainnya. Tapi bila disandingkan dengan prestasi temannya yang memiliki kualitas yang sama saat lulus dan dia masuk sekolah favorit dan berkualitas prestasinya biasa saja. Artinya lingkungan sekolah berpengaruh. cuala alam, berpengaruh terhadap hasil belajar. 

      Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (hal 120-121) mengungkapkan, bahwa untuk mengukur dan mengevaluasi hasil belajar siswa tersebut dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar. Berdasarkan tujuan dan ruang lingkunya, tes prestasi belajar dapat digolongkan ke dalam jenis penilaian sebagai berikut:
a. Tes Formatif, penilaian ini dapat mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut. Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dalam waktu tertentu.
b.   Tes Subsumatif, tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar atau hasil belajar siswa. Hasil tes subsumatif ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor.
c.  Tes Sumatif, tes ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester, satu atau dua bahan pelajaran. Tujuannya adalah untuk menetapkan tarap atau tingkat keberhasilan belajar siswa dalam satu periode belajar tertentu. Hasil dari tes sumatif ini dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyusun peringkat (rangking) atau sebagai ukuran mutu sekolah. 




0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home