Makalah Evaluasi Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian, Tujuan, Fungsi, dan
Prinsip Evaluasi Pendidikan di SD
Pendidikan
memiliki arti yang lebih luas daripada pengajaran (Ki Hajar Dewantara dalam
Sapriati, 2014:7.3). Menurut Ki hajar, pendidikan adalah peningkatan kemampuan
yang diperoleh peserta didik tidak hanya dari guru selama belajar tetapi juga
dari apa dan siapa saja (lingkungan) selama peserta didik dalam keadaan bangun.
Pada tahun 1935, beliau menyatakan bahwa pendidikan/pengajaran bertujuan
mengembangkan cipta, rasa, dan karsa peserta didik. B.S. Bloom pada tahun 1956, menjabarkan
tujuan pendidikan seperti itu lebih rinci yang terkenal dengan taksonomi tujuan
pendidikan, yaitu:
a. Ranah
kognitif (ranah proses berpikir)
b. Ranah
afektif (ranah sikap hidup)
c. Ranah
psikomotor (ranah keterampilan fisik)
Jika disejajarkan dengan pendapat Ki
Hajar, maka taksonomi Bloom disajikan dalam tabel berikut:
Ranah
|
B.S. Bloom
|
Ki Hajar Dewantara
|
Proses berpikir
|
Kognitif
|
Cipta
|
Sikap hidup
|
Afektif
|
Rasa
|
Keterampilan
fisik
|
Psikomotor
|
Karsa
|
Penilaian
berarti pengukuran keberhasilan seseorang dalam proses maupun keberhasilan
pembelajaran. Yang diukur tidak hanya materi yang dikuasai tetapi juga dampak
materi itu terhadap jenjang proses berpikir, jenjang pengembangan kepribadian,
dan jenjang kemampuan keterampilan.
Penilaian
merupakan bagian terpenting dari proses pembelajaran. Karena dari proses pembelajaran tersebut guru
perlu mengetahui seberapa jauh proses pembelajaran tersebut telah mencapai
hasil sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Menurut Nana Sudjana (1995: 3)
bahwa penilaian mempunyai ciri-ciri adanya objek atau program yang dinilai dan
adanya kriteria sebagai dasar untuk membandingkan antara kenyataan atau apa
adanya dengan kriteria atau apa harusnya. Perkembangan konsep penilaian pendidikan
yang ada pada saat ini menunjuk arah yang lebih luas, konsep-konsep tersebut
pada umumnya berkisar pada pandangan sebagai berikut :
(1)
Penilaian tidak hanya diarahkan kepada tujuan pendidikan yang ditetapkan,
tetapi juga terhadap tujuan-tujuan yang ditimbulkan dan efek sampingnya.
(2)
Penilaian tidak hanya melalui pengukuran perilaku siswa, tetapi juga melakukan
pengkajian terhadap komponen-komponen pendidikan, baik proses maupun keluaran.
(3)
Penilaian tidak hanya untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan-tujuan yang
telah ditetapkan, tetapi juga untuk mengetahui apakah tujuan-tujuan tersebut
penting bagi siswa dan bagaimana siswa mencapaianya. (Enny Sudaryanti, 2007)
2.1.1
Fungsi dan Tujuan Penilaian
Fungsi dari
penilaian menurut Nana Sudjana, (1995: 4) adalah sebagai berikut:
(1)
Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan intruksional.
Dengan
demikian penilaian harus mengacu pada rumusan-rumusan tujuan intruksional.
(2)
Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar.
Perbaikan
mungkin dilakukan dalam hal tujuan intruksional, kegiatan belajar siswa,
strategi mengajar guru dan lain-lain.
(3)
Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para orang tua.
Dalam laporan tersebut dikemukakan kemampuan dan kecakapan belajar siswa dalam
berbagai bidang studi dalam bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapainya
Penilaian di sini berfungsi sebagai alat
untuk mengetahui seberapa berhasilkah proses belajar mengajar yang terjadi.
Selain itu juga sebagai perbaikan dalam melakukan proses belajar mengajar yang
dilakukan oleh guru dan siswa. Dan juga sebagai laporan kemauan belajar siswa
yang diberikan kepada orang tua agar orang tuanya mengetahui hasil belajar
anaknya dalam bentuk raport yang biasanya diberikan pada akhir semester.
Fungsi
penilaian yang lainnya di sini bukan hanya untuk menentukan kemajuan belajar
siswa, tetapi sangat luas. Fungsi penilaian adalah sebagai berikut:
(a)
Penilaian membantu siswa merealisasikan dirinya untuk mengubah atau mengembangkan
perilakunya.
(b)
Penilaian membantu siswa mendapat kepuasan atas apa yang telah dikerjakannya.
(c)
Penilaian membantu guru untuk menetapkan apakah metode mengajar yang
digunakannya telah memadai.
(d)
Penilaian membantu guru membuat pertimbangan administrasi.
(Cronbach,
1954 dalam Hamalik, 2002: 204).
Fungsi penilaian sebagai alat untuk
membantu siswa dalam mewujudkan dan mengubah perilakunya sesuai dengan tata
tertib yang ada. Di sini juga siswa mendapat kepuasan atas apa yang
dikerjakannya yang berupa nilai. Apabila mereka sungguh-sungguh dalam
mengerjakan sesuatu maka hasil yang didapatkan akan bagus sehingga mereka akan
puas dengan hasil yang didapatkannya. Penilaian juga membantu guru dalam
menetapkan metode yang digunakan telah tepat diterapkan.
Sedangkan tujuan
dari penilaian menurut Nana Sudjana, (1995: 4) adalah sebagai berikut :
1)
Mendeskripsikan kecakapan belajar siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan
kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya.
2)
Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni
seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah
tujuan pendidikan yang diharapkan.
3)
Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan
penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi
pelaksanaanya.
4)
Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada
pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak yang dimaksud meliputi pemerintah,
masyarakat, dan para orang tua siswa.
Dari pendapat di atas, penilaian
mempunyai tujuan mendeskripsikan hasil belajar siswa sehingga dapat diketahui
kelebihan dan kekurangan siswa dalam proses pembelajaran tersebut. Selain itu
juga dapat mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah,
di sini dapat terlihat berhasil tidaknya guru dalam melaksanakan proses belajar
mengajar. Apabila hasilnya kurang baik maka dapat dilakukan perbaikan dan
penyempurnaan proses pendidikan sehingga dapat memberikan pertanggungjawaban
terhadap pihak sekolah.
Jenjang setiap ranah dapat
dilukiskan sebagai berikut:
R.
Kognitif (C)
|
R. Afektif (A)
|
R.
Psikomotor (P)
|
C6 Penilaian
|
A5 Menjadi pola hidup
|
P5 Gerak kompleks
|
C5 Sintesis
|
A4 Mengatur diri
|
P4 Gerak mekanik
|
C4 Analisis
|
A3 Menghargai
|
P3 Menirukan
|
C3
Penerapan
|
A2 Menanggapi
|
P2 Siap bertindak
|
C2 Pemahaman
|
A1 Menerima
|
P1 Persepsi
|
C1 Ingatan
|
Guru dalam
proses pembelajaran berupaya memahirkan peserta didik melalui latihan. Pada
setiap latihan tersebut penilaian mulai berperan. Artinya, untuk menentukan
bahwa peserta didik telah mahir “mengingat” diperlukan penilaian, dan
seterusnya. Kemahiran di setiap jenjang dapat diukur dengan alat ukur (tes)
untuk mengetahui tingkat kemahiran.
RPP
(Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang disusun guru harus tergambar konsep apa
yang ingin dikembangkan pada ranah mana
dan pada jenjang apa.
RPP dipedomani dalam proses belajar mengajar (proses pembelajaran) juga dipedomani dalam evaluasi proses maupun evaluasi hasil pembelajaran.
Hubungan RPP dengan proses dan
evaluasi digambarkan sebagai berikut:
Menurut
Tyler bagan tersebut di atas disempurnakan karena menurutnya ada hubungan
timbal balik antara ketiga aspek tersebut.
Setiap
tujuan/indikator pembelajaran memiliki proses pembelajaran tertentu dan
mempunyai alat ukur (tes) tertentu. Setelah proses pembelajaran untuk mencapai
tujuan tersebut selesai, perlu diadakan penilaian apakah benar-benar tujuan
telah tercapai. Kalau hasilnya baik, berarti proses sudah baik dan tujuan
pembelajaran sudah dicapai jika sebaliknya, berarti:
1.
Proses pembelajaran kurang baik/kurang tepat, dengan demikian guru harus
mengulangi proses pembelajaran dengan metode yang tepat.
2.
Kemungkinan proses pembelajaran sudah tepat, hasil evaluasi rendah terjadi
karena kompetensi terlalu tinggi sebab ada tujuan yang lebih rendah/prasyarat
yang harus dikuasai lebih dulu. Proses pembelajaran harus diulangi dengan
berpedoman pada kompetensi yang lebih rendah.
Proses
penyempurnaan hasil evaluasi atau proses peningkatan daya serap disebut evaluasi proses atau evaluasi formatif. Sebaiknya
evaluasi proses dilakukan tertulis agar semua peserta mendapat kesempatan yang
sama mengemukakan jawaban. Untuk kepentingan tertentu, evaluasi dapat juga
dilakukan dengan lisan terutama guru yang telah mengetahui pemetaan kemampuan
siswanya. Tingkat penguasaan hasil peserta didik akan lebih akurat jika tes
hasil belajar sering dilakukan.
Pada
ulangan harian, salah satu siswa dapat menjawab 3 dari 5 pertanyaan tes uraian
tetapi pada ulangan harian sebelumnya salah satu siswa tersebut hanya dapat
mengerjakan dua dari lima butir soal yang disediakan.
- Pertanyaan yang diberikan kepada
siswa adalah contoh alat ukur untuk mengukur hasil belajar siswa. Alat ukur itu
mengacu pada pengertian tes.
- Keberhasilan siswa menjawab benar
3 dari 5 pertanyaan merupakan hasil pengukuran. Penggunaan alat ukur yang
menghasilkan angka-angka ini mengacu pada pengertian pengukuran.
- Membandingkan hasil ulangan harian
pertama dan kedua, mengacu pada pengertian assesmen.
- Pernyataan tentang keberhasilan
pembelajaran yang telah dilakukan mengacu pada pengertian evaluasi.
Tes
merupakan alat ukur untuk memperoleh nformasi hasil belajar siswa yang
memerlukan jawaban benar atau salah. Yang termasuk kelompok tes adalah tes
objektif dan tes uraian. Yang termasuk kelompok bukan tes (nontes) antara lain
pedoman pengamatan, skala rating, skala sikap, dan pedoman wawancara.
Pengukuran
adalah kegiatan penentuan angka dari suatu objek yang diukur. Penentuan angka
ini merupakan suatu upaya penggambaran karakteristik suatu objek.
Assesmen
adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi hasil belajar siswa yang diperoleh
dari berbagai jenis tagihan dan mengolah informasi tersebut untuk menilai hasil
belajar dan perkembangan belajar siswa. Tagihan yang digunakan dalam assesmen
antara lain: kuis, ulangan harian, tugas individu, tugas kelompok, ulangan
akhir semester, laporan kerja, dan lain-lain.
Evaluasi
merupakan penilaian keseluruhan program pendidikan mulai perencanaan suatu
program substansi pendidikan termasuk kurikulum dan penilaian (assesmen) serta
pelaksanaannya, pengadaan dan peningkatan kemampuan guru, manajemen pendidikan,
dan reformasi pendidikan secara keseluruhan. Evaluasi bertujuan untuk meingkatkan
kualitas, kinerja, atau produktivitas suatu lembaga dalam melaksanakan
programnya.
Prinsip-prinsip Penilaian:
a. Berorientasi pada pencapaian
kompetensi
b. Valid artinya mengukur apa yang
seharusnya diukur. Untuk itu diperlukan alat ukur yang menghasilkan hasil
pengukuran yang valid dan reliabel.
c. Adil artinya adil bagi seluruh
siswa. Setiap siswa memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama
d. Objektif artinya tidak boleh
terpengaruhi unsur subjektivitas penilai agar pelaksanaan, penskoran, dan
pengambilan keputusan tidak merugikan siswa.
e. Berkesinambungan artinya
terencana, bertahap, teratur, terus-menerus, dan berkesinambungan untuk
memperoleh informasi hasil belajar dan perkembangan belajar siswa.
f. Menyeluruh, berarti penilaian
yang dilakukan mampu menilai keseluruhan kompetensi yang terdapat dalam
kurikulum yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
g. Terbuka, kriteria penilaian
terbuka bagi berbagai kalangan sehingga keputusan hasil belajar siswa jelas
bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
Bermakna,
hasil penilaian bermakna bagi siswa dan pihak-pihak yang berkepentingan. Hasil
penilaian dapat memberikan gambaran mengenai tingkat pencapaian hasil belajar
siswa, keunggulan dan kelemahan siswa, minat, serta potensi siswa dalam
mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.
2.2 Evaluasi Proses Belajar IPA di
SD
2.2.1 Pengertian Evaluasi Proses
Belajar IPA
Evaluasi
proses bermaksud untuk mendapatkan informasi sejauh mana kegiatan pembelajaran
membawa pengaruh pada peserta didik. Hasil evaluasi proses yang kurang
memuaskan berarti terdapat kekurang sempurnaan dalam pembelajaran dan
harus diperbaiki segera sehingga hasil evaluasi setelah perbaikan proses
menjadi sempurna atau lebih baik daripada hasil evaluasi proses yang pertama.
2.2.2
Tujuan Mata Pelajaran IPA di SD
Dalam
KTSP, tujuan tercantum tujuan mata pelajaran IPA di SD:
1. Memahami konsep-konsep IPA dan
keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
2. Memiliki keterampilan proses
untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang alam sekitarnya.
3. Mempunyai minat untuk
mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di lingkungan sekitar.
4. Bersikap ingin tahu, tekun,
terbuka kritis, mawas diri, bertangung jawab, bekerja sama, dan mandiri.
5. Mampu menerapkan berbagai
konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam
kehidupan sehari-hari.
6. Mampu menggunakan teknologi
sederhana yang berguna untuk memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan
sehari-hari.
7. Mengenal dan memupuk rasa
cinta terhadap alam sekitar, sehingga mempunyai kesadaran dan keagungan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Dikaitkan dengan tujuan pendidikan
menurut taksonomi Bloom, nomor 1, 5, dan 6 termasuk ranah kognitif, nomor 3, 4, 7
termasuk ranah afektif, dan
tujuan nomor 2 dan 6 termasuk ranah psikomotor.
2.2.3
Alat Evaluasi Proses Belajar IPA di SD
Alat
evaluasi proses pembelajaran IPA yang dperlukan terdiri dari alat evaluasi
untuk mengukur kognitif, alat evaluasi untuk menentukan kualitas hati nurani,
dan alat untuk mengukur kemampuan keterampilan.
a. Alat
evaluasi untuk mengukur kognitif
Alat evaluasi untuk mengukur kognitif berupa tes sesuai
dengan tujuan pembelajaran. Tes dapat berbentuk objektif atau uraian (esai).
Teknik pemberian tes secara tertulis dapat dengan pertanyaan objektif yaitu
melengkapi pilihan. Teknik lainnya dengan menyampaikan pertanyaan secara lisan.
b. Alat
evaluasi untuk menentukan kualitas hati nurani
Penilaian
afektif meliputi lima jenjang:
A5 Menjadi pola hidup
|
A4 Mengatur diri
|
A3 Menghargai
|
A2 Menanggapi
|
A1 Menerima
|
Lebih
mudah melatih anak didik untuk menghafal, memahami, menerapkan hukum,
peraturan, dan sebagainya yang sifatnya kognitif daripada melatih anak didik
supaya berdisiplin, menghargai pendapat orang lain, tenggang rasa, tepat waktu,
mau bekerja sama, dan sebagainya. Latihan ranah afektif dilakukan terus-menerus
selama proses pembelajaran agar meningkat menjadi jenjang A5 atau mejadi pola
hidup. Contoh yang dilatih adalah disiplin.
Guru mengamati dan mengobservasi apakah siswa tepat waktu dalam hal:
1. Datang di kelas/sekolah
2. Membayar uang sekolah
3. Mengikuti upacara bendera
4. Mengerjakan pekerjaan rumah
5. Mengerjakan tugas praktikum
6.
Membersihkan
kebun sekolah
7.
Mengerjakan
shalat tepat waktu
8.
Menepati
janji
9.
Mengembalikan
pinjaman pada waktu yang dijanjikan.
Alat yang digunakan untuk menentukan
adanya perubahan selama pelatihan adalah melalui observasi.
c. Alat evaluasi yang akan mengukur keterampilan
Jenis keterampilan yang harus dikembangkan dalam IPA
1) Keterampilan menggunakan tangan
- Cara memegang gelas
beker, seperti memegang gelas biasa namun harus terampil menuangkan isi yang
harus dipindahkan ke tempat lain melalui “bibir” gelas yang sudah didesain
untuk itu.
- Cara memegang termometer,
menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan kanan, tempat memegangnya di tengah
termometer. Juga dilatih bagaimana mengukur menggunakan termometer. Hal ini
perlu dilakukan terus-menerus dan perlu bimbingan.
2) Keterampilan menggunakan indera
penglihat
Observasi
atau pengamatan adalah kegiatan yang sering dilakukan dalam proses pembelajaran
IPA. Percobaan mengukur suhu air yang baru saja dipanaskan menggunakan
termometer, si pembaca harus meletakkan matanya sama tinggi dengan permukaan
air raksa termometer agar tidak keliru membaca skala.
3) Keterampilan menggunakan indera
pengecap
Yang
dilatihkan di SD adalah mengecap rasa manis, pahit, dan asam pada bagian
tertentu dari lidah.
4) Keterampilan menggunakan indera
pencium
Merasakan
bau dalam proses pendidikan IPA di SD lebih banyak dilatihkan daripada mengecap
rasa. Contoh: a) mengenali bau cuka di dapur, b) bau tape dibandingkan dengan
bau cuka, c) mengenal bau belerang, d) bau gas pada tukang las karbit, e) bau
di tempat pembuangan sampah, dan sebagainya.
2.2.4
Cara Menyusun Alat Evaluasi Proses Pembelajaran IPA
a.
Ranah Kognitif
Untuk mengetahui kemampuan kognitif guru dapat bertanya
secara lisan maupun dalam bentuk tertulis misalnya dengan menggunakan tes
objektif misalnya pilihan ganda dengan 4 pilihan jawaban.
Contoh
soal:
Gas
yang paling banyak volumenya di udara adalah ....
A.
Hidrogen
B. Helium
C. Oksigen
D.
Nitrogen
Butir
soal di atas masih mengukur C1(ingatan).
Untuk mengukur kemampuan C2
(memahami) guru dapat membuat pertanyaan :
- Jelaskan
mengapa perbandingan volume oksigen dengan volume nitrogen di udara selalu
tetap, walaupun udara tersebut diambil dari tempat A maupun dari tempat B!
Jika diubah dalam bentuk objektif:
Perbandingan volume oksigen dan
volum nitrogen di udara yang diambil dari berbagai tempat akan selalu sama
karena ....
A.
Udara merupakan campuran dari berbagai jenis gas
B. Adanya
angin yang selalu bergerak, campuran dalam gas dalam udara menjadi homogen
C. Proses
fotosintesis menyebabkan volume oksigen di udara menjadi tetap
D. Bernapas
artinya mengambil oksigen dari udara, sedangkan fotosintesis mengeluarkan
oksigen ke udara
b.
Ranah Psikomotor
Percobaan
menentukan volume oksigen di udara mengembangkan keterampilan: menelungkupkan
gelas pada lilin yang sedang terbakar dan terapung di atas air dan keterampilan
lain. Guru mengamati menggunakan lembar observasi misalnya sebagai berikut:
Lembar
Observasi
Menentukan
Volume Oksigen di Udara
No
|
Kegiatan yang Dilatihkan
|
Kualitas kegiaatn (beri tanda
check)
|
|||
Baik
Sekali
|
Baik
|
Kurang
Baik
|
Sangat
kurang baik
|
||
1
|
Memilih alat dan bahan yang sesuai
|
||||
2
|
Cara menyalakan lilin
|
||||
3
|
Cara meletakkan batang penyangga
|
||||
4
|
Cara menuangkan air di bejana
|
||||
5
|
Cara menelungkupkan gelas kosong
di atas lilin
|
||||
6
|
Cara memberi tanda permukaan air
sebelum percobaan
|
||||
7
|
Cara memberi tanda permukaan air
sesudah percobaan
|
||||
8
|
Membersihkan alat yang sudah
digunakan
|
||||
9
|
Menyimpan alat dan bahan yang
sudah digunakan
|
||||
c.
Ranah Afektif
Adanya kerja kelompok dalam percobaan telah membuahkan sifat
tenggang rasa yang makin tinggi dapat dicatat melalui pengamatan.
Indikator
tenggang rasa misalnya:
a. Tidak
memaksakan kehendak sendiri
b.
Mau menerima pendapat orag lain
c. Tidak
mudah tersinggung
d.
Kesediaan menjalin persahabatan tanpa pamrih
Contoh
Format Observasi:
Format
Observasi: Kualitas Kepribadian
No
|
Kegiatan yang Dilatihkan
|
Kualitas kegiaatn (beri tanda check)
|
|||
Baik
Sekali
|
Baik
|
Kurang
Baik
|
Sangat
kurang baik
|
||
1
2
3
4
5
|
Tenggang rasa/toleransi
Tidak memaksakan kehendak sendiri
Mau menerima pendapat orang lain
Tidak mudah tersinggung
Bersedia menjalin persahabatan tanpa pamrih
|
||||
2.3 Evaluasi Hasil Belajar IPA di SD
Untuk
dapat mengukur kemampuan berpikir (kognitif, C), kemampuan keterampilan
(psikomotor, P), dan kualitas kepribadian (afektif, A) diperlukan alat ukur
(tes) yang dapat dipercaya, yaitu alat tes yang memiliki: a) validitas
(ketepatan, kesahihan) yang tinggi, b) keseimbangan kesesuaian materi yang
dipelajari, c) adaya pembeda yang minimal cukup, d) objektivitasnya tinggi, dan
e) reliabilitas (ketetapan) yang tinggi.
2.3.1
Tes Evaluasi Belajar IPA di SD Ranah Kognitif
Tes hasil
belajar yang baik memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.
Penulisan konstruksi soal melengkapi kalimat, di akhir kalimat diberi empat titik.
b.
Pilihan aternatif pada butir soal objektif berbentuk pilihan ganda hendaknya homogen.
c.
Setiap butir soal tidak tergantung
dengan soal lain, artinya setiap butir soal mengukur konsep yang
beridiri sendiri
d.
Memperhatikan efisiensi kalimat,
jangan mengunakan kata yang sama pada pilihan jawaban.
e.
Mempertimbangkan situasi dan kondisi untuk memilih cara pelaksanaan secara lisan
atau tertulis, namun sebaiknya dilaksanakan tertulis jika butir yang ditanyakan cukup banyak.
2.3.2 Evaluasi Belajar IPA di SD Ranah
Psikomotor
Keterampilan
peserta didik menggunakan dan merancang alat-alat IPA hanya diperoleh dari guru
IPA. Hasil belajar keterampilan melalui IPA dapat diketahui melalui observasi
cara merancang dan melaksanakan kegiatan. Alat ujinya adalah pedoman observasi.
Kualitas keterampilan berupa pernyataan baik sekali, baik, kurang baik, dan kuang kualitas
keterampilannya, diubah
menjadi angka 1, 2, 3, dan 4. Skor tertinggi adalah banyaknya butir jenis
keterampilan/indiator dikalikan 4.
Contoh sebagai berikut:
Lembar
Observasi
Jenis
Kegiatan: Memindahan cairan dari satu bejana ke bejana
No
|
Kegiatan yang Dilatihkan
|
Kualitas kegiaatn
(beri tanda check)
|
|||
Baik
Sekali
(4)
|
Baik
(3)
|
Kurang
Baik
(2)
|
Sangat
kurang baik
(1)
|
||
1
|
Cara memegang kedua bejana
|
||||
2
|
Ketelitian menuangkan
|
||||
3
|
Kecepatan mengerjakan tugas
|
||||
4
|
Hasil akhir
|
||||
Nilai
keterampilan IPA sebagai berikut:
NA
= x
100
Nilai
akhir IPA (Teori dan Praktek)
a.
Bobot praktek sama dengan bobot teori
NA
=
b.
Bobot praktek berbanding teori 1 : 3
NA
= (¼ x Nilai Praktek) + (¾ xNilai Teori)
2.3.3
Nilai Hasil Pembelajaran IPA di SD Ranah Afektif
Upaya
peningkatan kualitas kepribadian menjadi tanggung jawab semua guru. Jika
dilakukan dengan cara observasi dapat memakan waktu lama. menyiasati hal itu,
digunakanlah angket dalam bentuk “Skala Likert” yakni skala sikap berupa
pernyataan positif maupun negatif terhadap suatu hal dan siswa diminta pendapatnya:
setuju sekali, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju.
Penyekoran
pada skala sikap, jika pernyataan setuju, pilihan jawaban setuju sekali,
setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju diberi skor 4,3,2,1. Jika pernyataan
negatif skor dibalikan menjadi 1,2,3,4. Pada waktu merakit naskah selalu
diupayakan pernyataan yang positif diselang-seling dengan pernyataan negatif.
Contoh skala sikap:
Sikap yang diukur misalnya “tenggan
rasa”
Pernyataan
|
Pilihan
Jawaban
|
|||
Sangat
Setuju
|
Setuju
|
Tidak
Setuju
|
Sangat
Tidak
Setuju
|
|
Saya lebih senang berteman dengan
siswa yang pandai
Perkawinan antarsuku perlu
digalakkan
|
||||
Pangukuran
hasil pembinaan peningkatan kualitas kepribadian ini dilakukan satu kali dalam
satu periode.
2.4
Pengertian Hasil Belajar
Masalah belajar adalah masalah bagi setiap manusia, dengan belajar manusia
memperoleh keterampilan, kemampuan sehingga terbentuklah sikap dan bertambahlah
ilmu pengetahuan. Jadi hasil belajar itu adalah suatu hasil nyata
yang dicapai oleh siswa dalam usaha menguasai kecakapan jasmani dan rohani di
sekolah yang diwujudkan dalam bentuk raport pada setiap semester.
Untuk mengetahui
perkembangan sampai di mana hasil yang telah dicapai oleh seseorang dalam
belajar, maka harus dilakukan evaluasi. Untuk menentukan kemajuan yang dicapai
maka harus ada kriteria (patokan) yang mengacu pada tujuan yang telah
ditentukan sehingga dapat diketahui seberapa besar pengaruh strategi belajar
mengajar terhadap keberhasilan belajar siswa. Hasil belajar
siswa menurut W. Winkel (dalam buku Psikologi
Pengajaran 1989:82) adalah keberhasilan yang dicapai oleh siswa, yakni
prestasi belajar siswa di sekolah yang mewujudkan dalam bentuk angka.
Menurut Winarno Surakhmad (dalam buku, Interaksi Belajar
Mengajar, (Bandung: Jemmars, 1980:25) hasil belajar
siswa bagi kebanyakan orang berarti ulangan, ujian atau tes. Maksud
ulangan tersebut ialah untuk memperoleh suatu indeks dalam menentukan
keberhasilan siswa.
Dari definisi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa hasil
belajar adalah prestasi belajar yang dicapai siswa dalam proses kegiatan
belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan pembentukan tingkah laku
seseorang. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar dapat dikatakan
berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan
filsafatnya. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada
kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa
suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pembelajaran dinyatakan
berhasil apabila tujuan pembelajaran khususnya dapat dicapai.
Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran khusus, guru perlu
mengadakan tes formatif pada setiap menyajikan suatu bahasan kepada siswa.
Penilaian formatif ini untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai
tujuan pembelajaran khusus yang ingin dicapai. Fungsi penelitian ini adalah
untuk memberikan umpan balik pada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar
mengajar dan melaksanakan program remedial bagi siswa yang belum berhasil.
Karena itulah, suatu proses belajar mengajar dinyatakan berhasil apabila
hasilnya memenuhi tujuan pembelajaran khusus dari bahan tersebut.
2.5 Indikator Hasil Belajar Siswa
Yang menjadi indikator utama hasil belajar siswa adalah sebagai
berikut:
a. Ketercapaian daya serap terhadap
bahan pembelajaran yang diajarkan, baik secara individual maupun kelompok.
Pengukuran ketercapaian daya serap ini biasanya dilakukan dengan
penetapan kriteria ketuntasan belajar minimal (KKM)
b. Perilaku yang digariskan dalam
tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun
kelompok.
Namun demikian, menurut Syaiful
Bahri Djamarah dan Aswan Zain (dalam buku Strategi Belajar
Mengajar 2002:120) indikator yang banyak dipakai sebagai tolak ukur
keberhasilan adalah daya serap.
2.6 Faktor
yang Mempengaruhi Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar dapat dipengaruhi
oleh berbagai hal. Secara umum hasil belajar dipengaruhi tiga hal atau
faktor-faktor tersebut diuraikan dibawah ini, yaitu :
1. Faktor internal (faktor dalam diri)
2. Faktor eksternal (faktor diluar diri)
3. Faktor pendekatan belajar
Faktor internal yang mempengaruhi
hasil belajar yang pertama adalah aspek fsikologis. Untuk memperoleh hasil belajar
yang baik, kebugaran tubuh dan kondisi panca indera perlu dijaga dengan cara:
makanan/minuman bergizi, istirahat, olah raga. Tentunya banyak kasus anak yang
prestasinya turun karena mereka tidak sehat secara fisik.
Faktor internal yang lain adalah
aspek psikologis. Aspek psikologis ini meliputi: intelegensi, sikap, bakat,
minat, motivasi dan kepribadian. Faktor psikologis ini juga merupakan faktor
kuat dari hasil belajar, intelegensi memang bisa dikembangkan, tapi sikap,
minat, motivasi dan kepribadian sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis diri
kita sendiri. Oleh karena itu, berjuanglah untuk terus mendapat suplai motivasi
dari lingkungan sekitar, kuatkan tekad dan mantapkan sikap demi masa depan yang
lebih cerah.
Selain faktor internal, hasil
belajar juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Faktor eksternal meliputi
beberapa hal, yaitu:
1. Lingkungan sosial, meliputi : teman, guru, keluarga dan
masyarakat.
Lingkungan sosial, adalah
lingkungan dimana seseorang bersosialisasi, bertemu dan berinteraksi dengan
manusia disekitarnya. Hal pertama yang menjadi penting dari lingkungan sosial
adalah pertemanan, dimana teman adalah sumber motivasi sekaligus bisa menjadi
sumber menurunnya prestasi. Posisi teman sangat penting, mereka ada begitu
dekat dengan kita, dan tingkah laku yang mereka lakukan akan berpengaruh
terhadap diri kita. Kalau kalian sudah terlanjur memiliki lingkungan pertemanan
yang lemah akan motivasi belajar, sebisa mungkin arahkan teman-teman untuk
belajar. Setidaknya dengan cara itu bisa memposisikan diri sebagai seorang
pelajar.
Guru adalah seorang yang sangat
berhubungan dengan hasil belajar. Kualitas guru di kelas, bisa mempengaruhi
bagaimana kita balajar dan bagaimana minat kita terbangun di dalam kelas.
Memang pada kenyataanya banyak siswa yang merasa guru mereka tidak memberi
motivasi belajar, atau mungkin suasana pembelajaran yang monoton. Hal ini
berpengaruh terhadap proses pembelajaran.
Keluarga juga menjadi faktor
yang mempengaruhi hasil belajar seseorang. Biasanya seseorang yang memiliki
keadaan keluarga yang berantakan (broken home) memiliki motivasi terhadap
prestasi yang rendah, kehidupannya terlalu difokuskan pada pemecahan konflik
kekeluargaan yang tak berkesudahan. Maka dari itu bagi orang tua jadikanlah
rumah keluarga sebagai surga, karena jika tidak anak yang baru lahir beberapa
tahun lamanya belum memiliki konsep pemecahan konflik batin yang kuat mereka
bisa stress melihat tingkah para orang
tua yang suka bertengkar, stress itu
dibawa ke dalam kelas.
Yang terakhir adalah masyarakat sebagai contoh seorang yang hidup dimasyarakat akademik mereka akan mempertahankan gengsinya dalam hal akademik di hadapan masyarakatnya. Jadi lingkungan masyarakat mempengaruhi pola pikir seorang untuk berprestasi. Masyarakat juga dengan segala aktifitas kemasyarakatannya mempengaruhi tidakan seseorang begitupun juga berpengaruh terhadap siswa dan mahasiswa.
Yang terakhir adalah masyarakat sebagai contoh seorang yang hidup dimasyarakat akademik mereka akan mempertahankan gengsinya dalam hal akademik di hadapan masyarakatnya. Jadi lingkungan masyarakat mempengaruhi pola pikir seorang untuk berprestasi. Masyarakat juga dengan segala aktifitas kemasyarakatannya mempengaruhi tidakan seseorang begitupun juga berpengaruh terhadap siswa dan mahasiswa.
2. Lingkungan non-sosial, meliputi : kondisi rumah, sekolah, peralatan,
alam (cuaca). Non-sosial seperti hal nya kondisi rumah (secara fisik), apakah
rapi, bersih, aman, terkendali dari gangguan yang menurunkan hasil belajar.
Sekolah juga mempengaruhi hasil belajar, ketika anak pintar masuk sekolah
biasa-biasa saja prestasi mereka bisa mengungguli teman-teman yang lainnya.
Tapi bila disandingkan dengan prestasi temannya yang memiliki kualitas yang
sama saat lulus dan dia masuk sekolah favorit dan berkualitas prestasinya biasa
saja. Artinya lingkungan sekolah berpengaruh. cuala alam, berpengaruh terhadap
hasil belajar.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah
dan Aswan Zain (hal 120-121) mengungkapkan, bahwa untuk mengukur dan
mengevaluasi hasil belajar siswa tersebut dapat dilakukan melalui tes
prestasi belajar. Berdasarkan tujuan dan ruang lingkunya, tes prestasi belajar
dapat digolongkan ke dalam jenis penilaian sebagai berikut:
a. Tes Formatif, penilaian
ini dapat mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan tujuan untuk
memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut.
Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dalam
waktu tertentu.
b. Tes Subsumatif, tes ini
meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu
tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa untuk
meningkatkan tingkat prestasi belajar atau hasil belajar siswa.
Hasil tes subsumatif ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses
belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor.
c. Tes Sumatif, tes ini
diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan pokok-pokok bahasan
yang telah diajarkan selama satu semester, satu atau dua bahan pelajaran.
Tujuannya adalah untuk menetapkan tarap atau tingkat keberhasilan belajar siswa
dalam satu periode belajar tertentu. Hasil dari tes sumatif ini dimanfaatkan
untuk kenaikan kelas, menyusun peringkat (rangking) atau sebagai ukuran mutu
sekolah.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home