Makalah Sosiologi Sebagai Ilmu
KATA PENGANTAR
Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,
karena atas karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas ini.
Makalah ini di menyajikan materi tentang “SOSIOLOGI
SEBAGAI ILMU“ yang telah selesai di kerjakan oleh kami.
Kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada
orang-orang yang ikut membantu terutama orang tua dalam segi materi.
Dan juga kami mohon maaf sebesar-besarnya karena
sebaik-baiknya kami mengerjakan makalah ini pasti ada kesalahan tapi kami sudah
berusaha semaksimal mungkin.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfa’at bagi
orang yang membaca khususnya kami yang membuatnya. Amin.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan sosiologi semakin mantap, setelah
pada tahun 1895 seorang ilmuwan Perancis bernama Emmile Durkheim
menerbitkan bukunya yang berjudul Rules of Sociological Method.
Dalam buku yang melambungkan namanya itu, Durkheim menguraikan tentang pentingnya
metodologi ilmiah dan teknik pengukuran kuantitatif di dalam sosiologi untuk meneliti
fakta sosial. Misalnya dalam kasus bunuh diri (suicide). Angka bunuh
diri dalammasyarakat yang cenderung konstan dari tahun ke tahun, dipengaruhi
oleh faktor yang berasal dari luar individu.
Dalam suatu jenis bunuh diri yang dinamakan
altruistic suicide disebabkan oleh derajat integrasi sosial yang
sangat kuat. Misalnya dalam satuan militer, dapat saja seorang
anggota mengorbankan dirinya sendiri demi keselematan satuannya.Sebaliknya,
dalam masyarakat yang derajat integrasi sosialnya rendah, akan mengakibatkan terjadinya
bunuh diri egoistik (egoisticsuicide).
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud
sosiologi?
2. Bagaimana sejarah dan
perkembangan sosiologi?
3. Apa karakteristik
sosiologi?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui
definisi sosiologi.
2. Untuk mengetahui sejarah
dan perkembangan sosiologi.
3. Untuk mengetahui
karakteristik sosiologi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Sosiologi
Perintis sosiologi yang lain adalah Max Weber.
Pendekatan yang digunakan Weber berbeda dari Durkheim yang lebih menekankan
pada penggunaan metodologi dan teknik-teknik pengukuran kuantitatif dari
pengaruh faktor-faktor eksternal individu. Wever lebih menekankan pada
pemahaman di tingkat makna dan mencoba mencari penjelasan pada faktor-faktor
internal individu. Misalnya tentang tindakan sosial. Tindakan sosial merupakan
perilaku individu yang diorientasikan kepada pihak lain, tetapi bermakna
subjektif bagi actor atau pelakunya. Makna sebenarnya dari suatu tindakan hanya
dimengerti oleh pelakukunya. Tugas sosiologi adalah mencari penjelasan tentang
makna subjektif dari tindakan-tindakan sosial yang dilakukan oleh individu.
Secara kebahasaan nama sosiologi berasal dari
kata socious, yang artinya ”kawan” atau ”teman” dan logos,
yang artinya ”kata”, ”berbicara”, atau ”ilmu”. Sosiologi berarti berbicara atau
ilmu tentang kawan. Dalam hal ini, kawan memiliki arti yang luas, tidak seperti
dalam pengertian sehari-hari, yang mana kawan hanya digunakan untuk menunjuk
hubungan di anatra dua orang atau lebih yang berusaha atau bekerja bersama.
Kawan dalam pengertian ini merupakan hubungan antar-manusia, baik secara
individu maupun kelompok, yang meliputi seluruh macam hubungan, baik yang
mendekatkan maupun yang menjauhkan, baik yang menuju kerpada bentuk kerjasama maupun
yang menuju kepada permusuhan. Jadi, sosiologi adalah ilmu tentang berbagai
hubungan antar-manusia yang terjadi di dalam masyarakat. Hubungan antar-manusia
dalam masyarakat disebut hubungan sosial.
Definisi sosiologi menurut para ahli adalah
sebagai berikut.
Allan Jhonson
Sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya
dengan satu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan
bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem itu.
Anthony Giddens
Sosiologi
merupakan studi tentang kehidupan sosial manusia, kelompok dan masyarakat.
Herbert
Spencer dari Inggris
Sosiologi
adalah penelitian tentang susunan – susunan dan proses – proses dari kehidupan
sosial sebagai suatu keseluruhan.
Hassan Shadily
Sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat, dan menyelidiki
ikatan – ikatan antara manusia yang menguasai kehidupan dengan mencoba mengerti
sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh, serta berubahnya
perserikatan-perserikatan hidup serta kepercayaan dan keyakinan, memberi sifat
tersendiri kepada cara hidup bersama dalam tiap persekutuan hidup manusia.
Pitirim A.
Sorokin
Sosiologi
adalah suatu ilmu yang mempelajari :
·
Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka
macam gejala sosial, misalnya gejala ekonomi dan agama, keluarga dan moral,
hukum dan ekonomi, gerak masyarakat dan politik, dan sebagainya.
·
Hubungan dan saling pengaruh antara gejala –
gejala sosial dan gejala – gejala non sosial, misalnya gejala geografis,
biologis dan sebagainya, serta
·
Ciri – ciri umum semua jenis gejala sosial.
Mayor Polak
Sosiologi
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni
hubungan diantara manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok,
baik kelompok formal maupun kelompok material atau kelompok statis maupun
kelompok dinamis.
Roucek dan
Warren
Sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia dengan kelompok.
B. Sejarah dan Perkembangan
Sosiologi
1. Sejarah Kelahiran
Sosiologi
Sebagai ilmu, sosiologi masih cukup muda, bahkan
paling muda di antara ilmu-ilmu sosial yang lain. Tokoh yang oleh banyak pihak
dianggap sebagai Bapak Sosiologi adalah Auguste Comte, seorang ahli filsafat
dari Perancis yang lahir pada tahun 1798 dan meninggal pada tahun 1853.
Walaupun sebenarnya pada akhir abad pertengahan
adalah Ibnu Khaldun (1332-1406), yang mengemukakan tentang beberapa
prinsip pokok untuk menafsirkan kejadian-kejadian sosial dan
peristiwa-peristiwa sejarah. Menurut beberapa sosiolog, Ibnu Khaldun lah
yang lebih tepat sebagai Bapak Sosiologi, karena jauh sebelum Comte ia telah
mengemukakan tentang prinsip-prinsip sosiologi dalam bukunya yang
berjudul Muqodimah. Auguste Comte mencetuskan pertama kali
nama sociology dalam bukunya yang berjudul Positive
Philoshopy yang terbit pada tahun 1838. Pada waktu itu Comte
menganggap bahwa semua penelitian tentang masyarakat telah mencapai tahap
terakhir, yakni tahap ilmiah, oleh karenanya ia menyarankan semua penelitian tentang
masyarakat ditingkatkan menjadi ilmu yang berdiri sendiri, lepas dari filsafat
yang merupakan induknya. Pandangan Comte yang dianggap baru pada waktu itu
adalah bahwa sosiologi harus didasarkan pada observasi dan klasifikasi yang
sistematis, dan bukan pada kekuasaan serta spekulasi.
Di samping mengemukakan istilah sosiologi untuk
ilmu baru yang berasal dari filsafat masyarakat ini, Comte juga merupakan orang
pertama yang membedakan antara ruang lingkup dan isi sosiologi dari ilmu-ilmu
lainnya. Menurut Comte ada tiga tahap perkembangan intelektual, yang
masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. Tahap pertama dinamakan
tahap theologis, kedua adalah tahap metafisik, dan ketiga adalah
tahap positif.
Pada tahap pertama manusia menafsirkan
gejala-gelajala di sekelilingnya secara teologis, yaitu dengan kekuatan
adikodrati yang dikendalikan oleh roh, dewa, atau Tuhan yang Maha Kuasa. Pada
tahap kedua manusia mengacu pada hal-hal metafisik atau abstrak, pada tahap
ketiga manusia menjelaskan fenomena-fenomena ataupun gejala-gejala dengan
menggunakan metode ilmiah, atau didasarkan pada hukum-hukum ilmiah. Di sinilah
sosiologi sebagai penjelasan ilmiah mengenai masyarakat. Dalam sistematika
Comte, sosiologi terdiri atas dua bagian besar, yaitu: (1) sosiologi statik,
dan (2) sosiologi dinamik. Sosiologi statik diibaratkan dengan anatomi
sosial/masyarakat, sedangkan sosiologi dinamik berbicara tentang
perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
2. Perkembangan Sosiologi
Setelah Comte
Istilah sosiologi menjadi lebih populer setelah
setengah abad kemudian berkat jasa dari Herbert Spencer, ilmuwan Inggris, yang
menulis buku berjudul Principles of Sociology (1876),
yang mengulas tentang sistematika penelitian masyarakat. Perkembangan sosiologi
semakin mantap, setelah pada tahun 1895 seorang ilmuwan Perancis bernama Emmile
Durkheim menerbitkan bukunya yang berjudulRules of Sociological Method.
Dalam buku yang melambungkan namanya itu,
Durkheim menguraikan tentang pentingnya metodologi ilmiah dan teknik pengukuran
kuantitatif di dalam sosiologi untuk meneliti fakta sosial. Misalnya dalam
kasus bunuh diri (suicide). Angka bunuh diri dalam masyarakat yang
cenderung konstan dari tahun ke tahun, dipengaruhi oleh faktor yang berasal
dari luar individu. Dalam suatu jenis bunuh diri yang dinamakan altruistic
suicide disebabkan oleh derajat integrasi sosial yang sangat
kuat. Misalnya dalam satuan militer, dapat saja seorang anggota mengorbankan
dirinya sendiri demi keselematan satuannya.
Sebaliknya, dalam masyarakat yang derajat
integrasi sosialnya rendah, akan mengakibatkan terjadinya bunuh diri egoistik (egoistic
suicide). Derajat integrasi sosial yang rendah dapat disebabkan oleh
lemahnya ikatan agama ataupun keluarga. Seseorang dapat saja melakukan bunuh
diri karena tidak tahan menderita penyakit yang tidak kunjung sembuh, di lain
sisi ia merasa tidak mempunyai ikatan apapun dengan anggota keluarga atau
masyarakat yang lain. Pada masyarakat yang dilanda kekacauan, anggota-anggota
masyarakat yang merasa bingung karena tidak adanya norma-norma yang dapat
dijadikan pedoman untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan hidupnya, dapat saja
melakukan bunuh diri jenis anomie (anomic suicide).
Berbagai macam jenis bunuh diri ini, oleh Durkheim dinyatakan sebagai peristiwa
yang terjadi bukan karena faktor-faktor internal individu, melainkan dari
pengaruh faktorfaktor eksternal individu, yang disebut fakta sosial.
Banyak pihak kemudian mengakui bahwa Durkheim
sebagai ”Bapak Metodologi Sosiologi”. Durkheim bukan saja mampu melambungkan
perkembangan sosiologi di Perancis, tetapi bahkan berhasil mempertegas
eksistensi sosiologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan ilimiah (sains) yang
terukur, dapat diuji, dan objektif. Menurut Durkheim, tugas sosiologi adalah
mempelajari apa yang disebut fakta sosial. Fakta sosial adalah cara-cara
bertindak, berfikir, dan berperasaan yang berasal dari luar individu, tetapi
memiliki kekuatan memaksa dan mengendalikan individu. Fakta sosial dapat berupa
kultur, agama, atau isntitusi sosial.
Perintis sosiologi yang lain adalah Max Weber.
Pendekatan yang digunakan Weber berbeda dari Durkheim yang lebih menekankan
pada penggunaan metodologi dan teknik-teknik pengukuran kuantitatif dari
pengaruh faktor-faktor eksternal individu. Wever lebih menekankan pada
pemahaman di tingkat makna dan mencoba mencari penjelasan pada faktor-faktor
internal individu. Misalnya tentang tindakan sosial. Tindakan sosial merupakan
perilaku individu yang diorientasikan kepada pihak lain, tetapi bermakna
subjektif bagi aktor atau pelakunya. Makna sebenarnya dari suatu tindakan hanya
dimengerti oleh pelakukunya.
C. Karakteristik Sosiologi
Sebagai ilmu, sosiologi memiliki sifat hakikat
atau karakteristik sosiologi:
1. Merupakan ilmu sosial,
bukan ilmu kealaman ataupun humaniora
2. Bersifat
empirik-kategorik, bukan normatif atau etik; artinya sosiologi berbicara apa
adanya tentang fakta sosial secara analitis, bukan mempersoalkan baik-buruknya
fakta sosial tersebut. Bandingkan dengan pendidikan agama atau pendidikan
moral.
3. Merupakan ilmu
pengetahuan yang bersifat umum, artinya bertujuan untuk menghasilkan pengertian
dan pola-pola umum dari interaksi antar-manusia dalam masyarakat, dan juga
tentang sifat hakikat, bentuk, isi dan struktur masyarakat.
4. Merupakan ilmu
pengetahuan murni (pure science), bukan ilmu pengetahuan
terapan (applied science)
5. Merupakan ilmu
pengetahuan yang abstrak atau bersifat teoritis. Dalam hal ini
sosiologi selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi.
Abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara
logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat sehingga menjadi
teori.
D. Tujuan Manfaat
Sosiologi
Seperti yang kita ketahui, sosiologi memiliki
banyak manfaat bagi kehidupan. Banyak sekali manfaat dariilmu sosiologi yang
bisa kita aplikasikan di dalam kehidupan bermasyarakat. Baik disadari atau
tidak, sosiologi sangat erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Dewasa
ini ilmu pengetahuan telah menggantikan akal sehat sebagai sumber pengetahuan
yang dapat diandalkan tentang tingkah laku manusia. Oleh karena itu, sosiologi
sangat penting bagi kita yang merupakan mahluk sosial. Hal ini disebabkan yang
menjadi objek kajian dari sosiologi adalah kita semua yang selalu berinteraksi
dengan orang lain. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika sosiologi diajarkan
di sekolah sedari dini. Tujuan sosiologi adalah untuk memahami konsep dalam
sosiologi itu sendiri seperti lembaga sosial, struktur sosial, perubahan sosial,
sosialisasi dan konflik serta lainnya, Serta juga untuk menumbuhkan kesadaran
dan kepedulian sosial di dalam masyarakat. Manfaat yang dapat diperoleh dengan
mempelajari sosiologi adalah sebagai berikut ini :
- Dengan sosiologi dapat melihat
secara jelas siapa diri kita, baik itu sebagai pribadi atau anggota
masyarakat atau kelompok
- Dengan sosiologi dapat memahami
tempat kita di dalam masyarakat, serta bisa melihat kehidupan dan budaya
lain yang belum kita lihat di masyarakat lain
- Dengan sosiologi kita semakin
memahami tradisi, norma dan keyakinan serta nilai-nilai yang dianut oleh
masyarakat
- Dengan sosiologi, kita semakin
kritis dan tanggap serta rasional dalam menghadapi gejala sosial di dalam
masyarakat
- Dengan sosiologi, kita bisa
bertindak dengan akurat serta bersikap tepat dalam menghadapi situasi
sosial di kehidupan sehari-hari.
Selain itu sosiologi
juga bermanfaat untuk pembangunan dan penelitian. Dan berikut adalah tujuan dan manfaat sosiologi di bidang pembangunan dan
penelitian.
- Manfaat untuk pembangunan
Sosiologi sangat berguna untuk memberikan data sosial yang
diperlukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian dalam
pembangunan. Di dalam tahap perencanaan yang harus diperhatikan adalah apa yang
menjadi kebutuhan sosil. dalam tahap pelaksanaan yang harus dilihat ialah
kekuatan sosial dalam masyarakat dan juga proses perubahan sosialnya. Pada
tahap penilaian yang harus dilakukan adalah analisis terhadap efek dari
pembangunan tersebut.
- Manfaat untuk penelitian
Dengan melakukan penelitian dan juga penyelidikan sosiologis maka
akan diperoleh suatu perencanaan atau pemecahan masalah sosial yang baik.
Berdasarkan penelitian sosiologis, para pengambil keputusan dapat menyusun
rencana dan cara untuk memecahkan suatu masalah sosial.
Beberapa manfaat dari ilmu sosiologi dalam
kehidupan sehari ialah sebagai berikut :
- Sosiologi membuat kita bisa
mengetahui dan juga memperoleh kesempatan dan kendala dalam kehidupan kita
- Sosiologi juga memberdayakan
manusia untuk menjadi aktif dalam kehidupan bermasyarakat
- Sosiologi mendorong kita untuk
meninjau kembali pemahaman kita dan juga orang lain tentang pemahaman yang
sudah familiar
- Sosiologi mengajarkan kita
untuk memahami pluralitas atau perbedaan yang ada di dalam masyarakat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Istilah sosiologi menjadi lebih populer setelah
setengah abad kemudian berkat jasa dari Herbert Spencer, ilmuwan Inggris, yang
menulis buku berjudul Principles of Sociology (1876), yang mengulas tentang
sistematika penelitian masyarakat. Perkembangan sosiologi semakin mantap,
setelah pada tahun 1895 seorang ilmuwan Perancis bernama Emmile Durkheim
menerbitkan bukunya yang berjudul Rules of Sociological Method.
Dalam buku yang melambungkan namanya itu,
Durkheim menguraikan tentang pentingnya metodologi ilmiah dan teknik pengukuran
kuantitatif di dalam sosiologi untuk meneliti fakta sosial. Misalnya dalam
kasus bunuh diri (suicide). Angka bunuh diri dalam masyarakat yang cenderung
konstan dari tahun ke tahun, dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari luar
individu.
DAFTAR PUSTAKA
Erlangga. 2004. Sosiologi. Ilmu sosiologi
http://agsasman3yk.files.wordpress.com/2009/08/kelas-x-sm1-2010-2011.pdf
Yudhistira. 2007. Sosiologi 1. Sosiologi
sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home