Wednesday, November 9, 2016

Makalah Sosiologi Sebagai Ilmu

KATA PENGANTAR

Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas ini.
Makalah ini di menyajikan materi tentang “SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU“ yang telah selesai di kerjakan oleh kami.
Kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang ikut membantu terutama orang tua dalam segi materi.
Dan juga kami mohon maaf sebesar-besarnya karena sebaik-baiknya kami mengerjakan makalah ini pasti ada kesalahan tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin.

Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfa’at bagi orang yang membaca khususnya kami yang membuatnya. Amin. 













 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Perkembangan sosiologi semakin mantap, setelah pada tahun 1895 seorang ilmuwan Perancis bernama Emmile Durkheim menerbitkan bukunya yang berjudul Rules of Sociological Method. Dalam buku yang melambungkan namanya itu, Durkheim menguraikan tentang pentingnya metodologi ilmiah dan teknik pengukuran kuantitatif di dalam sosiologi untuk meneliti fakta sosial. Misalnya dalam kasus bunuh diri (suicide). Angka bunuh diri dalammasyarakat yang cenderung konstan dari tahun ke tahun, dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari luar individu.
Dalam suatu jenis bunuh diri yang dinamakan altruistic suicide disebabkan oleh derajat integrasi sosial yang sangat kuat. Misalnya dalam satuan militer, dapat saja seorang anggota mengorbankan dirinya sendiri demi keselematan satuannya.Sebaliknya, dalam masyarakat yang derajat integrasi sosialnya rendah, akan mengakibatkan terjadinya bunuh diri egoistik (egoisticsuicide).

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud sosiologi?
2.      Bagaimana sejarah dan perkembangan sosiologi?
3.      Apa karakteristik sosiologi?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi sosiologi.
2.      Untuk mengetahui sejarah dan perkembangan sosiologi.
3.      Untuk mengetahui karakteristik sosiologi.



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Definisi Sosiologi
Perintis sosiologi yang lain adalah Max Weber. Pendekatan yang digunakan Weber berbeda dari Durkheim yang lebih menekankan pada penggunaan metodologi dan teknik-teknik pengukuran kuantitatif dari pengaruh faktor-faktor eksternal individu. Wever lebih menekankan pada pemahaman di tingkat makna dan mencoba mencari penjelasan pada faktor-faktor internal individu. Misalnya tentang tindakan sosial. Tindakan sosial merupakan perilaku individu yang diorientasikan kepada pihak lain, tetapi bermakna subjektif bagi actor atau pelakunya. Makna sebenarnya dari suatu tindakan hanya dimengerti oleh pelakukunya. Tugas sosiologi adalah mencari penjelasan tentang makna subjektif dari tindakan-tindakan sosial yang dilakukan oleh individu.
Secara kebahasaan nama sosiologi berasal dari kata socious, yang artinya ”kawan” atau ”teman” dan logos, yang artinya ”kata”, ”berbicara”, atau ”ilmu”. Sosiologi berarti berbicara atau ilmu tentang kawan. Dalam hal ini, kawan memiliki arti yang luas, tidak seperti dalam pengertian sehari-hari, yang mana kawan hanya digunakan untuk menunjuk hubungan di anatra dua orang atau lebih yang berusaha atau bekerja bersama. Kawan dalam pengertian ini merupakan hubungan antar-manusia, baik secara individu maupun kelompok, yang meliputi seluruh macam hubungan, baik yang mendekatkan maupun yang menjauhkan, baik yang menuju kerpada bentuk kerjasama maupun yang menuju kepada permusuhan. Jadi, sosiologi adalah ilmu tentang berbagai hubungan antar-manusia yang terjadi di dalam masyarakat. Hubungan antar-manusia dalam masyarakat disebut hubungan sosial.
Definisi sosiologi menurut para ahli adalah sebagai berikut.
Allan Jhonson
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan satu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem itu.
Anthony Giddens
Sosiologi merupakan studi tentang kehidupan sosial manusia, kelompok dan masyarakat.

Herbert Spencer dari Inggris
Sosiologi adalah penelitian tentang susunan – susunan dan proses – proses dari kehidupan sosial sebagai suatu keseluruhan.
Hassan Shadily
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat, dan menyelidiki ikatan – ikatan antara manusia yang menguasai kehidupan dengan mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh, serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup serta kepercayaan dan keyakinan, memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama dalam tiap persekutuan hidup manusia.
Pitirim A. Sorokin
Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari :
·                 Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial, misalnya gejala ekonomi dan agama, keluarga dan moral, hukum dan ekonomi, gerak masyarakat dan politik, dan sebagainya.
·                 Hubungan dan saling pengaruh antara gejala – gejala sosial dan gejala – gejala non sosial, misalnya gejala geografis, biologis dan sebagainya, serta
·                 Ciri – ciri umum semua jenis gejala sosial.
Mayor Polak
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni hubungan diantara manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik kelompok formal maupun kelompok material atau kelompok statis maupun kelompok dinamis.
Roucek dan Warren
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia dengan kelompok.

B.       Sejarah dan Perkembangan Sosiologi
1.      Sejarah Kelahiran Sosiologi
Sebagai ilmu, sosiologi masih cukup muda, bahkan paling muda di antara ilmu-ilmu sosial yang lain. Tokoh yang oleh banyak pihak dianggap sebagai Bapak Sosiologi adalah Auguste Comte, seorang ahli filsafat dari Perancis yang lahir pada tahun 1798 dan meninggal pada tahun 1853.
Walaupun sebenarnya pada akhir abad pertengahan adalah Ibnu Khaldun (1332-1406), yang mengemukakan tentang beberapa prinsip pokok untuk menafsirkan kejadian-kejadian sosial dan peristiwa-peristiwa sejarah. Menurut beberapa sosiolog, Ibnu Khaldun lah yang lebih tepat sebagai Bapak Sosiologi, karena jauh sebelum Comte ia telah mengemukakan tentang prinsip-prinsip sosiologi dalam bukunya yang berjudul Muqodimah. Auguste Comte mencetuskan pertama kali nama sociology dalam bukunya yang berjudul Positive Philoshopy yang terbit pada tahun 1838. Pada waktu itu Comte menganggap bahwa semua penelitian tentang masyarakat telah mencapai tahap terakhir, yakni tahap ilmiah, oleh karenanya ia menyarankan semua penelitian tentang masyarakat ditingkatkan menjadi ilmu yang berdiri sendiri, lepas dari filsafat yang merupakan induknya. Pandangan Comte yang dianggap baru pada waktu itu adalah bahwa sosiologi harus didasarkan pada observasi dan klasifikasi yang sistematis, dan bukan pada kekuasaan serta spekulasi.
Di samping mengemukakan istilah sosiologi untuk ilmu baru yang berasal dari filsafat masyarakat ini, Comte juga merupakan orang pertama yang membedakan antara ruang lingkup dan isi sosiologi dari ilmu-ilmu lainnya. Menurut Comte ada tiga tahap perkembangan intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. Tahap pertama dinamakan tahap theologis, kedua adalah tahap metafisik, dan ketiga adalah tahap positif.
Pada tahap pertama manusia menafsirkan gejala-gelajala di sekelilingnya secara teologis, yaitu dengan kekuatan adikodrati yang dikendalikan oleh roh, dewa, atau Tuhan yang Maha Kuasa. Pada tahap kedua manusia mengacu pada hal-hal metafisik atau abstrak, pada tahap ketiga manusia menjelaskan fenomena-fenomena ataupun gejala-gejala dengan menggunakan metode ilmiah, atau didasarkan pada hukum-hukum ilmiah. Di sinilah sosiologi sebagai penjelasan ilmiah mengenai masyarakat. Dalam sistematika Comte, sosiologi terdiri atas dua bagian besar, yaitu: (1) sosiologi statik, dan (2) sosiologi dinamik. Sosiologi statik diibaratkan dengan anatomi sosial/masyarakat, sedangkan sosiologi dinamik berbicara tentang perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
2.      Perkembangan Sosiologi Setelah Comte
Istilah sosiologi menjadi lebih populer setelah setengah abad kemudian berkat jasa dari Herbert Spencer, ilmuwan Inggris, yang menulis buku berjudul Principles of Sociology (1876), yang mengulas tentang sistematika penelitian masyarakat. Perkembangan sosiologi semakin mantap, setelah pada tahun 1895 seorang ilmuwan Perancis bernama Emmile Durkheim menerbitkan bukunya yang berjudulRules of Sociological Method.
Dalam buku yang melambungkan namanya itu, Durkheim menguraikan tentang pentingnya metodologi ilmiah dan teknik pengukuran kuantitatif di dalam sosiologi untuk meneliti fakta sosial. Misalnya dalam kasus bunuh diri (suicide). Angka bunuh diri dalam masyarakat yang cenderung konstan dari tahun ke tahun, dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari luar individu. Dalam suatu jenis bunuh diri yang dinamakan altruistic suicide disebabkan oleh derajat integrasi sosial yang sangat kuat. Misalnya dalam satuan militer, dapat saja seorang anggota mengorbankan dirinya sendiri demi keselematan satuannya.
Sebaliknya, dalam masyarakat yang derajat integrasi sosialnya rendah, akan mengakibatkan terjadinya bunuh diri egoistik (egoistic suicide). Derajat integrasi sosial yang rendah dapat disebabkan oleh lemahnya ikatan agama ataupun keluarga. Seseorang dapat saja melakukan bunuh diri karena tidak tahan menderita penyakit yang tidak kunjung sembuh, di lain sisi ia merasa tidak mempunyai ikatan apapun dengan anggota keluarga atau masyarakat yang lain. Pada masyarakat yang dilanda kekacauan, anggota-anggota masyarakat yang merasa bingung karena tidak adanya norma-norma yang dapat dijadikan pedoman untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan hidupnya, dapat saja melakukan bunuh diri jenis anomie (anomic suicide). Berbagai macam jenis bunuh diri ini, oleh Durkheim dinyatakan sebagai peristiwa yang terjadi bukan karena faktor-faktor internal individu, melainkan dari pengaruh faktorfaktor eksternal individu, yang disebut fakta sosial.
Banyak pihak kemudian mengakui bahwa Durkheim sebagai ”Bapak Metodologi Sosiologi”. Durkheim bukan saja mampu melambungkan perkembangan sosiologi di Perancis, tetapi bahkan berhasil mempertegas eksistensi sosiologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan ilimiah (sains) yang terukur, dapat diuji, dan objektif. Menurut Durkheim, tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang disebut fakta sosial. Fakta sosial adalah cara-cara bertindak, berfikir, dan berperasaan yang berasal dari luar individu, tetapi memiliki kekuatan memaksa dan mengendalikan individu. Fakta sosial dapat berupa kultur, agama, atau isntitusi sosial.
Perintis sosiologi yang lain adalah Max Weber. Pendekatan yang digunakan Weber berbeda dari Durkheim yang lebih menekankan pada penggunaan metodologi dan teknik-teknik pengukuran kuantitatif dari pengaruh faktor-faktor eksternal individu. Wever lebih menekankan pada pemahaman di tingkat makna dan mencoba mencari penjelasan pada faktor-faktor internal individu. Misalnya tentang tindakan sosial. Tindakan sosial merupakan perilaku individu yang diorientasikan kepada pihak lain, tetapi bermakna subjektif bagi aktor atau pelakunya. Makna sebenarnya dari suatu tindakan hanya dimengerti oleh pelakukunya.

C.          Karakteristik Sosiologi
Sebagai ilmu, sosiologi memiliki sifat hakikat atau karakteristik sosiologi:
1.      Merupakan ilmu sosial, bukan ilmu kealaman ataupun humaniora
2.      Bersifat empirik-kategorik, bukan normatif atau etik; artinya sosiologi berbicara apa adanya tentang fakta sosial secara analitis, bukan mempersoalkan baik-buruknya fakta sosial tersebut. Bandingkan dengan pendidikan agama atau pendidikan moral.
3.      Merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat umum, artinya bertujuan untuk menghasilkan pengertian dan pola-pola umum dari interaksi antar-manusia dalam masyarakat, dan juga tentang sifat hakikat, bentuk, isi dan struktur masyarakat.
4.      Merupakan ilmu pengetahuan murni (pure science), bukan ilmu pengetahuan terapan (applied science)
5.      Merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak atau bersifat teoritis. Dalam hal ini sosiologi selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat sehingga menjadi teori.

D. Tujuan Manfaat Sosiologi
Seperti yang kita ketahui, sosiologi memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Banyak sekali manfaat dariilmu sosiologi yang bisa kita aplikasikan di dalam kehidupan bermasyarakat. Baik disadari atau tidak, sosiologi sangat erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Dewasa ini ilmu pengetahuan telah menggantikan akal sehat sebagai sumber pengetahuan yang dapat diandalkan tentang tingkah laku manusia. Oleh karena itu, sosiologi sangat penting bagi kita yang merupakan mahluk sosial. Hal ini disebabkan yang menjadi objek kajian dari sosiologi adalah kita semua yang selalu berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika sosiologi diajarkan di sekolah sedari dini. Tujuan sosiologi adalah untuk memahami konsep dalam sosiologi itu sendiri seperti lembaga sosial, struktur sosial, perubahan sosial, sosialisasi dan konflik serta lainnya, Serta juga untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian sosial di dalam masyarakat. Manfaat yang dapat diperoleh dengan mempelajari sosiologi adalah sebagai berikut ini :
  1. Dengan sosiologi dapat melihat secara jelas siapa diri kita, baik itu sebagai pribadi atau anggota masyarakat atau kelompok
  2. Dengan sosiologi dapat memahami tempat kita di dalam masyarakat, serta bisa melihat kehidupan dan budaya lain yang belum kita lihat di masyarakat lain
  3. Dengan sosiologi kita semakin memahami tradisi, norma dan keyakinan serta nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat
  4. Dengan sosiologi, kita semakin kritis dan tanggap serta rasional dalam menghadapi gejala sosial di dalam masyarakat
  5. Dengan sosiologi, kita bisa bertindak dengan akurat serta bersikap tepat dalam menghadapi situasi sosial di kehidupan sehari-hari.
Selain itu sosiologi juga bermanfaat untuk pembangunan dan penelitian. Dan berikut adalah tujuan dan manfaat sosiologi di bidang pembangunan dan penelitian.
  • Manfaat untuk pembangunan
Sosiologi sangat berguna untuk memberikan data sosial yang diperlukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian dalam pembangunan. Di dalam tahap perencanaan yang harus diperhatikan adalah apa yang menjadi kebutuhan sosil. dalam tahap pelaksanaan yang harus dilihat ialah kekuatan sosial dalam masyarakat dan juga proses perubahan sosialnya. Pada tahap penilaian yang harus dilakukan adalah analisis terhadap efek dari pembangunan tersebut.
  • Manfaat untuk penelitian
Dengan melakukan penelitian dan juga penyelidikan sosiologis maka akan diperoleh suatu perencanaan atau pemecahan masalah sosial yang baik. Berdasarkan penelitian sosiologis, para pengambil keputusan dapat menyusun rencana dan cara untuk memecahkan suatu masalah sosial.
Beberapa manfaat dari ilmu sosiologi dalam kehidupan sehari ialah sebagai berikut :
  1. Sosiologi membuat kita bisa mengetahui dan juga memperoleh kesempatan dan kendala dalam kehidupan kita
  2. Sosiologi juga memberdayakan manusia untuk menjadi aktif dalam kehidupan bermasyarakat
  3. Sosiologi mendorong kita untuk meninjau kembali pemahaman kita dan juga orang lain tentang pemahaman yang sudah familiar
  4. Sosiologi mengajarkan kita untuk memahami pluralitas atau perbedaan yang ada di dalam masyarakat.
























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Istilah sosiologi menjadi lebih populer setelah setengah abad kemudian berkat jasa dari Herbert Spencer, ilmuwan Inggris, yang menulis buku berjudul Principles of Sociology (1876), yang mengulas tentang sistematika penelitian masyarakat. Perkembangan sosiologi semakin mantap, setelah pada tahun 1895 seorang ilmuwan Perancis bernama Emmile Durkheim menerbitkan bukunya yang berjudul Rules of Sociological Method.
Dalam buku yang melambungkan namanya itu, Durkheim menguraikan tentang pentingnya metodologi ilmiah dan teknik pengukuran kuantitatif di dalam sosiologi untuk meneliti fakta sosial. Misalnya dalam kasus bunuh diri (suicide). Angka bunuh diri dalam masyarakat yang cenderung konstan dari tahun ke tahun, dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari luar individu.














DAFTAR PUSTAKA

Erlangga. 2004. Sosiologi. Ilmu sosiologi
http://agsasman3yk.files.wordpress.com/2009/08/kelas-x-sm1-2010-2011.pdf
Yudhistira. 2007. Sosiologi 1.  Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat


0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home